Sabtu, 02 Mei 2020

Mau Mobil Anda Tetap Terawat Meskipun Masih di Rumah Aja ? Pakai Mitsubishi Service Aja!

Sudah lebih dari satu bulan pemerintah melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk mencegah penyebaran virus Corona COVID-19 yang masih terus mewabah di berbagai titik daerah Indonesia hingga saat ini. Semua kegiatan seperti sekolah, kerja, keagamaan dan hiburan dibatasi. Alhasil, semua kegiatan dilakukan dirumah masing-masing. Kendaraan pribadi pun terkena dampaknya akibat tidak dipakai oleh sang pemiliknya. Membiarkan kendaraan pribadi terutama mobil tanpa perawatan yang memadai menyebabkan kondisi aki melemah, tekanan udara berkurang sehingga ban mengempis, bahan bakar mengendap, piringan cakram berkarat, hingga debu bersarang di saluran AC mobil. Sayang dong, punya mobil bagus-bagus, eh enggak terawat sama sekali.
Source link

Terus gimana dong? Tenang, PT. Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) punya 5 layanan servis untuk merawat mobil kesayangan Anda dari perawatan ringan hingga perawatan berat tanpa harus keluar rumah. Kok bisa? Ya bisa dong, karena PT. MMKSI tetap memberikan pelayanan yang terbaik untuk kamu pengguna mobil Mitsubishi.

Ada 5 kemudahan layanan service Mitsubishi yang bisa dipilih, yaitu:
1) Home Service
Buat yang tetep sibuk di rumah tapi enggak mau mobil kesayangan dirumah enggak terawat, cobalah layanan Home Service ini. Caranya gampang, tinggal hubungi Call Center diler terdekat, lalu diler akan mengirimkan satu personel mekanik langsung ke rumah kamu . Layanan servis ini hanya untuk servis ringan ya (berlaku kelipatan 10.000 Km). Oiya, jangan khawatir mekanik yang datang akan memakai masker saat kerumah kamu.

2) Diler Service yang tersebar di seluruh Indonesia
Meskipun PSBB sedang berlangsung, Diler Service tetap buka untuk melayani pelanggan yang membutuhkan layanan servis. Yang masih dirumah aja, kalian bisa menggunakan layanan servis Vehicle Pick Up. Cukup  hubungi diler Mitsubishi Motors terdekat di kotamu (syarat dan ketentuan berlaku), lalu pihak diler akan mengirimkan personelnya dan menjemput mobilmu untuk melakukan perawatan di diler. Jadi, kamu enggak perlu repot-repot keluar rumah. Cukup duduk manis dirumah sambil nonton film, drama atau TV pun bisa.

Selain layanan servis Vehicle Pick Up, kamu juga bisa booking servis mobilmu dengan cara melakukan Service Booking melalui aplikasi My Mitsubishi Motors ID atau langsung menghubungi diler terdekat. Supaya kamu lebih aman dan nyaman ketika berkunjung ke diler dan juga pekerja service maupun spare part menjasi lebih cepat dan teratur.

3) Mitsubishi Quick Pit (MQP)
Mau servis mobil tapi enggak mau nunggu lama. Gampang! Pilih saja layanan Mitsubishi Quick Pit (MQP) . MQP adalah layanan servis cepat untuk perawatan berkala tanpa keluhan pada kendaraan. Kok bisa lebih cepat? Bisa dong, karena dikerjakan oleh dua mekanik profesional sehingga servis lebih cepat dari biasanya.

4) 24 Hours Emergency Service
Mobilmu mogok karena kehabisan bensin? atau karena ban-nya pecah? Atau karena kebanjiran di tengah jalan? Enggak usah khawatir! MMKSI memberikan layanan 24 Hours Emergency Service. Yang artinya, pelayanan darurat 24 jam secara GRATIS!. Tapi syaratanya adalah usia mobilmu harus kurang dari 3 tahun dari tanggal kamu beli mobil itu. Lalu apa saja yang bisa didapat dari layanan 24 Hours Emergency Service? Yang pertama, gratis free towing ke dealer Mitsubishi terdekat dengan maskimal jarak 50 km dari tempat tinggal. Kedua, gratis memberikan pertolongan pertama berupa jumper aki atau penggantian aki sementara. Ketiga, gratis 5 liter BBM untuk mobil yang kehabisan bensin di tengah jalan. Untuk mendapatkan pelayanan darurat ini, kamu cukup hubungi Call Center 0804-1-300-300 dan layanan ini beroperasi selama 24 jam.

5) Perpanjangan Garansi Kendaraan, Free Service dan Smart Package
Kabar baik untuk kendaraanmu yang masa garansinya berakhir pada tanggal 13 Maret - 31 Mei 2020, kamu akan mendapatkan perpanjangan garansi! kamu bisa melakaukan perbaikan kendaraanmu sampai masa pandemi selesai dan situasi semakin membaik. Kamu hanya perlu menghubungi diler terdekat dan membawa service booklet kendaraanmu ketika ingin mengajukan perpanjangan garansi.

Selain perpanjangan garansi, Free Service dan Smart Package yang berakhir pada tanggal 13 Maret-31 Mei 2020 juga mendapatkan masa perpajangan. Dengan menghubungi dealer Mitsubishi Motors terdekat dan mengunjunginya setelah masa PSBB berakhir untuk melakukan servis mobil kesayanganmu.

Informasi mengenai kontak dealer terdekat bisa di cek melalui website https://www.mitsubishi-motors.co.id/cari-dealer dan pada aplikasi My Mitsubishi Motors ID.

Wah layanan servis Mitsubshi benar-benar memanjakan konsumen banget ya. Ya jelas dong! Presiden Direktur PT MMKSI, Naoya Nakamura, mengatakan "MMKSI berusaha menjadi perusahaan nomor satu di industri. Tidak hanya di sektor otomotoif tetapi juga di sektor lainnya. Kami telah mendapatkan penghargaan peringkat pertama untuk Customer Satisfaction Index (CSI), Sales Satisfaction Index (SSI).dan Initial Quality Study (IQS). Namun kami tidak akan berhenti sampai disini, kami akan terus berusaha untuk memberikan pengalaman baru yang berkesan bersama Mitsubishi Motors yang tidak akan didapatkan dari brand lain."

Demi memberikan pelayanan terbaik dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen, MMKSI mempunyai 5 pilar utama yaitu:

  1. One Spirit :Semangat untuk memberikan pelayanan terbaiknya untuk konsumen
  2. One Hospitality Standard: melayani dengan senyum dan tanggap memberikan solusi
  3. One Service Standard: memastikan konsumen mendapatkan kualitas layanan Mitsubishi Motors dengan sistem yang yang terintegritas dan akurat
  4. One Unity : kendaraan konsumen akan diperlakukan layaknya kendaraan sendiri oleh para teknisi
  5. One Vision: MMKSI akan terus berinovasi dalam pelayanan dan mencari solusi dalam memenuhi segala kebutuhan konsumen.
So, buat apa ragu menikmati layanan servis Mitsubishi? Urusan kerjaan beres, bantuin tugas sekolah anak beres, perawatan mobil kesayanganmu pun juga beres. 

-Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis blog DBP Academy x Tempo Blogger Writing Competition-
Share:

Selasa, 04 Februari 2020

Pengalaman Pertama Ikut Tes IELTS

Source: Link
Yeay, 2020 I'm ready to take some risks in order to change! 😎
Setelah setahun perjuangan keluar dari kebimbangan ambil ujian IELTS atau enggak, akhirnya gue nekat juga haha. Gimana enggak bimbang ya, wong harga tesnya aja 2.9 juta wkwk. Duid sebanyak itu kan lumayan buat makan, shopping, beli buku dan masih banyak lagi. Memang yang namanya mengejar mimpi butuh pengorbanan waktu yang dihabiskan untuk belajar dan juga uang. Dan Alhamdulillah, gue berhasil melewatinya, dan ternyata enggak seserem seperti yang gue bayangkan alias SERU!

Gue kira soalnya super sulit, terus dikelilingi orang-orang yang prestasinya mentereng-tereng dimana-mana dan sibuk sama persiapan IELTS nya masing-masing. Eh pas hari-H, wow amazing. Pas ngerjain soal berasa lagi belajar (yaiyalah hampir setahun gak berhenti-berhenti latihan wkwk) terus ketemu orang-orang yang humble dan asyik disana, padahal mereka ini ada yang udah keterima beasiswa, ada yang mau kerja di luar negeri tapi enggak membuat mereka sombong, dan juga untuk melanjutkan kuliahnya di dalam atau di luar negeri. Beda lah sama suasana saat di tempat les IELTS he he he.

Hilih, malah curhat wkwk. Okay, kali ini gue mau ngasih gimana sih caranya daftar tes IELTS dan apa yang perlu dipersiapkan saat hari H. Jeng jeng jeng, check it out guyss!

1) Siapin Duid, Duid, Duid 
Source : Link
 Untuk Tes IELTS di tahun 2020 harganya 2.9 juta, sedangkan TOEFL iBT info yang pernah kubaca harganya 3.1 juta. Jadi guys, selain harus ngeluarin duid buat les persiapan IELTS/TOEFL, juga harus nyiapin duid buat tes. Kalo kayak gue yang eman-eman duid, persiapan alias belajar IELTS nya dikencengin sampai merasa cukuplah 6.5 atau 7 pas latihan. Tapi juga jangan lama-lama ya guys belajarnya, ntar keburu bosen dan males kayak gue yang sempet berhenti beberapa bulan karena mengikuti kelas beasiswa TESOL di salah satu daerah di Jakarta wkwk.

2) Buka Website IALF (Indonesia Australia Language Foundation)
Source: Link
Awalnya tau website ini ya dari rujukan tempat les gue dulu di LBI Salemba UI. Sempet baca-baca di websitenya dan menelfon mbaknya yang di Salemba, akhirnya gue buka tuh website resmi IALF (klik disini). Nah itu langsung kebuka di pendaftaran IELTS, dibaca baek-baek ya gaisss.

3) Apa bedanya IELTS computer-based dan IELTS paper-based test?
Source: Link
Dari namanya juga udah jelas yee, Kalo yang computer-based berarti ngerjain listening, writing, reading nya di komputer, kalo paper-based di kertas lah. Untuk Speaking, keduanya sama-sama face-to-face kok. Tapi keuntungan mengambil computer tuh hasil tesnya keluarnya cepet cuma 5-7 hari, kalau paper lebih lama sampai 13 hari. Terus yaa, kalau computer setiap hari Senin-Sabtu selalu tersedia tesnya, tapi kalau paper cuma tanggal-tanggal tertentu aja. Lu bisa cek jadwalnya yang computer-based test disini ya, sedangkan yang paper-based test klik disini. Oiya setiap kota jadwalnya beda-beda ya, dan di link yang gue kasih udah super lengkap banget jadwal dan lokasinya jadi langsung tancep gas yee.

Lalu gue pilih yang mana? Ohhh jelass, gue pilih paper-based test wkwk. Karena computer-based ini baru launching tahun 2019 yang lalu, dan gue belajar biasanya selalu pake kertas, yaudah pilih itu aja. Lagipula, lebih enak juga bisa nyoret-nyoret di kertas dan gak bikin mata sakit pas reading dan writing.

4) Apa yang dibutuhin untuk mendaftar tes IELTS?
Source: Link
Cuma KTP/Paspor yang masih berlaku ya, juga Kartu Kredit/Debit/Mobile Banking, dan hasil soft copy dari scan KTP/Paspor. Udah itu aja gak pake ribet wkwk. 

5) Isi Formulir pendaftaran tes IELTS
Source: Link
Setelah klik jenis tes IELTSnya, jadwal dan lokasi, tahapan selanjutnya mengisi formulir pendaftaran tes IELTS. Wah sayangnya kemaren, pas gue daftar gue lupa screenshoot. Intinya sih formulir itu harus diisi dalam waktu 30 menit. Banyak dah kolom yang harus diisi dari mulai nama lengkap, pekerjaan dan masih banyak lagi dah. Nah, ini gunanya soft copy KTP/Paspor, nanti diupload di formulir pendaftaran. Inget ya nama harus sesuai di KTP/Paspor, kalao enggak ya gagal ujian pas di hari H-nya.

6) Apa itu bayar Walk-In dan Online?
Source: Link
Nah, kalau you kejauhan melipir ke IALF, you bisa bayar online lewat m-banking atau via ATM juga bisa. Tapi kalo pengen mampir ke tempat IALF nya langsung sambil cuci mata lihat bule cakep, dan bayar cash disana itu disebut dengan pembayaran Walk-In. Yang bayarnya online via ATM disarankan untuk simpen bukti pembayarannya yaa, buat jaga-jaga aja hehe.

Setelah semuanya beres, tinggal menunggu waktu ujian IELTS. Oh iya, kalian bisa booking jadwal IELTS sebulan sebelum hari H ya (khususnya Paper-based), karena kemarin pas gue ikut ujian, gilak ada sekitar 30-40 orang.

Setelah dag dig dug menunggu sebulan, akhirnya hari dimana ujian IELTS pun tiba. Mana itu pagi-pagi hujan deres banget, badan gak mau dikasih makan kalo pagi-pagi alias eneg, yasudah dengan segala kenekatan, gue cabut langsung ke IALF Kuningan naik motor haha. Jadi apa yang gue perlu dibawa di hari H?

1) KTP/Paspor
Ini wajib, wajib banget dibawa jangan sampe kelupaan. Kalo lupa auto gagal ujian karena gak dibolehin masuk ke kantornya.

2) Botol minum yang transparan.
Karena pas Listening, Reading, dan Writing selama 3 jam penuh gak keluar ruangan, disarankan membawa air minum ya. Lumayan juga biar gak keliatan nervous amat haha.

Udah itu aja. Loh kok gak bawa alat tulis? Udah disediain sama pihak IALF-nya. Disana dari awal masuk kantornya aja udah super ketat banget, harus ngantri terus dicek KTP/Paspornya wajah kita sama ga di aslinya. Bahkan tanda tangan kita pun di cek, sama atau kagak. HP harus dinonaktifkan dan ditunjukkan ke petugasnya. Yaelah ribed wkwk. Jam tangan, gelang juga kudu dimasukin ke dalem tas, lalu dititpin ke penitipan barang. Jadi cuma bawa ktp/paspor sama air minum. Setelah dititipin ya, wajah di cek lagi sama atau kagak, baru dah dipoto. Dalem hati, suudzan banget dah di cek-cek mulu wkwk. Next, abis dipoto nunggu semua peserta kelar dipoto. Baru dah masuk kedalam ruangan ujiannya. Urutan duduk sesuai nama abjad dari A-Z. Diatas meja udah ada 2 pensil dan 1 penghapus. Kebetulan gue dapet tempat duduk paling belakang, hilih percuma juga kagak kenal siapa samping dan depan gue. Dibelakang juga ada petugas yang jaga.

Selama Listening, Reading, dan Writing yeah gue laluin kayak pas lagi belajar. Bermain dengan waktu, kecepatan dan juga ketelitian. Karena udah biasa latihan pakai waktu, enggak begitu kaget justru malah seru dan menikmatinya, Alhamdulillah. Tapi soal nilai, pasrah aja dah gue wkwk. Bisa ngerjain aja udah seneng wkwk.

Yeap, kelar dah tuh ketiga skills, ternyata jadwal speaking gue jam 16.55 dan itu udah tertulis di meja ujian & board disana. Gila, gue yang udah kelar jam 12 siang, kudu nungguin 4-5 jam. Nyebelin banget dapet jadwal paling akhir. Gue pengen cepet cepet selesai juga. Yaudah, sambil nunggu gue makan siang di salah satu Cafe. Apes, gara-gara tergiur promo paket murah di depan tokonya, ternyata paket murahnya udah abis, adanya makanan yang kaga murah haha. Karena ada mbak-mbak yang ngajak gue duduk bareng disitu, yasudah mau enggak mau harus bayar lebih.

Sambil makan, kita kenalan dan juga sama mas-masnya yg mesen makanan duluan. Ngobrol-ngobrol soal beasiswa, rencana studi di Luar Negeri, target skor IELTS dan masih banyak lagi. Gue kira target mereka tinggi diatas 7 yee. Enggak taunya mereka bilang dapet 6.5 udah cukuplah ngapain tinggi-tinggi wkwk. Bener-bener kebalik sama ekspektasi gue dah. Setelah selesai makan, kita bertiga kembali ke ruangan ujian itu sambil menunggu dipanggil. Rasanya waktu berjalan sangat lambat walaupun kita saling ngobrol membunuh nervous dan kejenuhan.

Karena jadwal speaking gue paling akhir, alhasil mereka duluan lah yang dipanggil. Huft, yasudah gue main game aja biar lupa sama nervousnya. Tapi emang dasar guenya kagak bisa diem, keluar-masuk ruangan ujian. Sampe-sampe gue akhirnya duduk manis karena gue nemu teman senasib yang dapet speaking test paling akhir. Lagi, gue berkenalan dengan mereka yang sama-sama berjuang. Mereka humble dan ada yang share pengalamannya tes masuk salah satu universitas di Amerika. Gak pernah nyangka aja sih gue, walaupun dia udh dapet beasiswa LPDP, ternyata tidak mencakup ujian tes masuk disana. Lagi-lagi harus berkorban duit lagi. Ada juga yang butuh IELTS buat ngelamar pekerjaan di Australia. Gue penasaran dong, gimana caranya kerja di Luar Negeri. Usut punya usut ternyata ngelamar via LinkedIn. Whaaa, pengen tapi.... wkwk.

Finally, it's my turn to speak English in Speaking Test. Paling pasrah kalo ini mah, gue jarang belajar kalo yang ini dan gak begitu pede jadinya haha. Yaudahlah yaaa, yang penting udah dilewatin hehe.

Ini sebenernya bikin gue sadar, masih banyak pengalaman-pengalaman seru yang perlu gue coba. Bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai kalangan yang senasib dan juga sama-sama berjuang meraih mimpi. Next time, maybe I should find a wider relations. Yhaa siapa tau ya, bisa melahirkan ide atau berkolaborasi. Who knows that my life story would be interesting?
Share:

Sabtu, 20 Juli 2019

My New Chapter of Life

Source: freeimages.com
Sudah lama ya, tidak menulis di blog ini. Wah banyak sekali yang terjadi sebenarnya. Bahagia, senang, sedih, kecewa, stress semuanya jadi satu. Yeah, namanya juga hidup, tentu ada bumbu-bumbu MSG di setiap masalah yang dihadapi. Post kali ini adalah sebagai pengingat diriku sekaligus pelajaran untuk semua. Aku akan mengambil garis besar dari prosesku menjadi dewasa. Untuk diriku di masa depan, jika kau kehilangan arah lagi atau merasa benar-benar berada di bawah banget, baca baik-baik tulisan ini.

1) Popularitas apakah penentu kebahagiaan?
Source: stocksy.com
         Sebenarnya aku tidak pernah mengharapkan popularitas sama sekali. Cerita ini bermula ketika aku mendapatkan bayaran nge-sub dari teman Cina-ku. Karena merasa bermanfaat dan kebetulan aku lagi bucinnya nge-fans sama Zhang Yixing a.k.a Lay EXO (sampai sekarang pun masih suka stalker di Twitter haha), yaudah deh akhirnya aku menawarkan diri untuk membantu fans yang lain yang juga kebetulan fanspage favoritku, nge-sub salah satu acara yang dibintangi oleh Yixing. Kita berdua berusaha keras dari awal sampai akhir episode untuk nge-sub acara itu. Walaupun jauh dari kata sempurna, ternyata website besar Indonesia pun banyak yang asal comot hasil sub video kita. Dan, akun fanpage yang aku buat, ramainya bukan main. hp bunyi terus karena banyak DM masuk. Karena aku orangnya enggak biasa dapet DM sebanyak itu dan engga enakan juga kalau engga dibales, aku balesin aja satu-satu. Isi DM mereka emang bisa bikin senang atau engga kesel haha. Kebanyakan isinya adalah support dan juga tukang nagih minta di sub cepet-cepet. Belum juga harus berkutat dengan website yang asal nindih watermark hasil karya kami. Disitu aku punya banyak kenalan online dari berbagai daerah dan juga beberapa negara. Setahun megang akun fanpage itu, aku akhirnya nyerah. Kehidupanku yang sebelumnya lebih sepi dan damai, tiba-tiba super ramai menjadi terasa seperti aku kehilangan diriku yang sebenarnya. Aku kok ngerasa kayak lebih jadi ke attention seeker. Padahal dulu aku orangnya apa adanya, kalau engga suka yaudah bodo amatan gitu lah. Jadi tuh rasanya enggak enak, biasanya dapet berpuluh puluh pesan terus tiba-tiba mulai berkurang atau mengharapkan orang lain peduli nyatanya tidak sesuai harapan. Fix, pokoknya rasanya udah enggak sehat, ke bodo amat-an ku terkikis sudah wkwk. Daripada aku mengharapkan sesuatu yang tidak pasti dan merasa udah engga bermanfaat bagi orang lain, aku out dari fanpage ku sendiri haha. Aku pun kembali mencari diri ku yang bodo amat-an itu wkwk.
           Disini, aku bisa menarik kesimpulan bahwa aku memang tidak cocok dan tidak dilahirkan untuk sebuah popularitas. Agar sebuah popularitas terus eksis butuh usaha terus menerus, yang menurutku lebih condong untuk menyenangkan orang lain. Awalnya aku mengira membuat orang lain senang bisa menumbuhkan rasa bermanfaat di diri ini. Memang itu benar, tapi sayangnya aku tidak bahagia. Jadinya capek sendiri, dan aku tersadar menyenangkan semua orang bukanlah tugas ku.

2) Berdamai dengan diri sendiri dan juga love-hate friendship?
Source: pinimg.com
           Ini adalah cerita sebuah love-hate friendship yang menunjukkan seberapa ngeyel-nya aku untuk mempertahankan pertemanan ini haha. Jangan ditiru ya. Jadi intinya tuh, aku terlalu mengharapkan semuanya akan berjalan sama dari waktu ke waktu. Aku mungkin terlalu nyaman dan terlalu berharap akan terus bahagia dengan berteman seperti ini. Terlalu banyak kenangan indah dan berkesan yang pada akhirnya hanya akan membuatku kecewa karena semuanya sudah engga sama seperti dulu lagi. Dari rasa kecewa itulah, mungkin aku menyakiti temanku sendiri tanpa kusadari. Yeah, walaupun kita berusaha terus memperbaikinya namun tidak berhasil. Ujung-ujungnya kembali ke negative thinking lagi. Karena sama-sama enggak menemukan titik temu, kita pun jadi capek sendiri karena berusaha memahami dan mengerti. Aku pun dulu mengira beda pandangan itu udah biasa, dulu sama sahabatku aja gitu setelah itu baikan lagi. Tapi, yang ini emang beda deh. Mungkin, karena faktor umur, cara berfikirnya makin rumit dan juga masalah makin kompleks. 
            Dan lagi, aku disini kehilangan diriku lagi. Biasanya aku asik sendiri sama kesendirianku, kali ini aku jadi ingin selalu ditemani dan enggak mau sendirian. Ini perubahan yang enggak pernah kusangka sih. Jadi lebih cenderung terlalu bergantung kepada orang lain. Kalau enggak ditemani, rasa kesepian dan kesendirian itu benar-benar udah mengganggu. Akhirnya, karena merasa ada yang enggak beres, aku pun mulai berdamai dengan diri aku sendiri terlebih dahulu. Lebih menerima rasa kesepian dan sendiri ini sebagai waktu evaluasi diri dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Kalau baca satu kalimat ini tuh, keliatan mudah ya. Tapi, realitanya mah untuk keluar dari zona kelam ini benar-benar membutuhkan perjuangan ekstra. Untuk membangunkan jiwa ini yang sudah terlanjur lemah aja butuh support dari beberapa orang. Baru bisa kembali mendekatkan diri ke Tuhan. Disaat masa-masa krusial itu, sayangnya aku harus merelakan love-hate friendship ini. Aku menuliskan surat permintaan maaf dan terimakasih kepadanya karena ia susah ditemui. Pikiranku saat itu, aku harus membebaskan diriku dari rasa bersalah dahulu sebelum kesehatanku semakin memburuk. Terlepas, ia membacanya atau tidak, memaafkan aku atau tidak biar Allah saja yang urus. Setelah itu terlewati, aku merasa lebih damai dan menguat dari hari ke hari. Kesehatanku pun membaik, malah jadi doyan makan tapi tetap langsing wkwk (jangan ngiri ya haha). Aku enggak tau maksud dibalik semua kejadian ini, tapi aku yakin ada jawabannya di masa depan nanti. Yang pasti, sekarang aku mulai menemukan titik terangnya, sembari aku masih berusaha menyembuhkan diri sendiri. Perlahan tapi pasti, aku kembali ke diriku semula namun versi tahan banting dan lebih berani menghadapi masalah.

3) Tentang mimpi, lanjut atau tidak?

Source: ytmig.com
           Kegalauanku muncul melanjutkan mimpi gilaku ini atau tidak karena setelah aku mendapatkan beasiswa pelatihan guru dan bertemu teman dan pelatih dari berbagai negara membuatku sadar akan satu hal. Ketika aku kesulitan beradaptasi, sulit memahami pelajaran, atau benar-benar lagi di titik rendahnya, siapa yang mau menemaniku? Jujur, mereka baik banget, sering aku dibayarin jajan, mau berbagi pengalaman dan juga bertukar pikiran, tapi tetap saja something is missing. Aku bertanya pada diri aku sendiri, apa mimpi gilaku ini lah yang hanya bisa membuatku bangga dan bahagia? Bagaimana kalau seandainya mimpi gilaku ini sebenarnya tidak seindah yang aku bayangkan? Persiapan pun sepertinya jauh dari kata siap. Lalu, aku bertanya kepada diri ku sendiri, sebenarnya apa sih yang aku inginkan? Stuck, namun disisi lain aku ingin mencobanya walau sekali saja. Hmm, apakah pemimpi pernah merasakan ini sebelumnya? Hmm, harus dikaji ulang berarti.
"Masa muda memang penuh kegalauan. Yang harus diingat apapun yang terjadi jangan pernah kehilangan dirimu! Kalau bukan dirimu sendiri, siapa lagi yang lebih memahamimu selain dirimu sendiri?"
Share:

Rabu, 20 Maret 2019

My Journey: My First Day Attending TESOL Training at JLA

Haiiii apakabar? Heheheheheh. Kali ini aku mau cerita pengalamanku mendapatkan beasiswa TESOL (Teaching English to Speakers of Other Language) Training dari JLA (Jakarta Language Academy). Enggak nyangka kan? Aku juga enggak nyangka hehe. Setelah menemui banyak penolakan sana-sini entah itu dari lamaran kerja, volunteer dan masih banyak lagi akhirnya ada salah satu yang nyangkut alias keterima jadi penerima salah satu beasiswa full class seharga 16 juta Rupiah. Wow, mungkin bagi orang yang kebanyakan duit itu enggak seberapa. Tapi, bagiku ini adalah suatu pengalaman yang berharga dan membanggakan, plus saya suka yang gratis heheheh. Aku dapet info ini dari grup WA kampus dan seperti biasa awalnya aku ragu mau ikut atau enggak. Setelah dipikir-pikir yaudahlah iseng dicoba aja, soal keterima apa kaga urusan belakangan. Saat itu aku mendaftar beasiswanya via online. Lumayan banyak data yang harus diisi, aku sampe 3 kali isi ulang data karena nge-stuck di pertanyaan-pertanyaan terakhir. Yang aku ingat pertanyaan-pertanyaan itu seputar pengajaran dan opiniku soal itu, dan aku butuh beberapa hari memastikan jawabanku terkonsep dan minim dari kesalahan kata dan grammar. Fiyuh, aku sampe nyuri-nyuri waktu saat ngajar karena kalau dirumah terganggu dengan hp dan internet. Setelah submit, aku menunggu hasilnya keterima apa enggak dan menunggunya itu lumayan lama. Aku daftar tahun kemarin dan akhirnya dinyatakan keterima di awal tahun ini. Aku aja sampe lupa loh sama beasiswa ini wkwk.

Image result for Jakarta Language Academy
Source: https://www.jakartalanguageacademy.com/
Pasti ada yang nanya apasih itu JLA? Oke, JLA adalah lembaga yang menyediakan program pemberdayaan guru, salah satu programnya adalah TESOL. Terus TESOL itu apa? apa yang pertama kali terfikirkan dibenakmu? Kalau aku, pertama kali lihat tulisan TESOL mengira sama artinya dengan TESL (Teaching English as Second Language) atau TEFL (Teaching English as Foreign language). Dan boom! Ternyata mereka semua berbeda bung. Kalau TESOL adalah pengajaran bahasa inggris untuk orang-orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris. Kalau TESL adalah pengajaran bahasa Inggris kepada orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai percakapan sehari-hari. Contohnya seperti negara Singapura dan India. Sedangkan TEFL adalah pengajaran bahasa Inggris untuk orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris hanya untuk suatu kepentingan seperti travelling ke luar negeri, melamar pekerjaan dan masih banyak lagi. Contoh negaranya adalah Indonesia. Ada lagi nih yang namanya TEAL (Teaching English as Additional Language) yang artinya pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa tambahan. Maksudnya adalah bahasa Inggris disini bukan sebagai bahasa kedua lagi, tapi bisa sebagai bahasa ketiga atau keempat dan seterusnya. Contohnya adalah seseorang dari Indonesia khususnya orang Jawa, biasanya bisa bahasa Indonesia dan Jawa lalu dia juga fasih berbahasa Inggris maka disini bahasa Inggris menempati urutan ketiga. 

Kebetulan aku pernah belajar TEFL di kampus. Ingatan-ingatan di kampus berusaha kuingat namun yang tersisa hanyalah nama buku yang direkomendasikan oleh dosen favoritku dulu: Jeremy Harmer. Dan benar saja, guru yang mengajar training ini menggunakan buku itu. Ngomongin soal guru, ternyata aku pernah bertemu guru ini di kampusku. Saat itu, dia masuk ke ruangan dosen ngomong pakai bahasa Inggris, tapi pas aku duduk di ruang tunggu di tempat training, fasih bener ngomong bahasa Indonesia ke karyawan lain. Eh ternyata guru yang bernama Karl Milsom ini sudah 10 tahun tinggal di Indonesia. Dia asalnya dari United Kingdom. Bener-bener masih kelihatan muda tapi ternyata sudah punya anak perempuan satu. Enggak bisa bayangin itu anaknya secakep apa, bapaknya aja hidungnya mancung, kulitnya putih namun ada rona merah di pipinya, iris matanya agak abu-abu dan rambutnya enggak hitam entah warna apa susah dijelaskan. Mr. Karl sejauh ini menurutku tipe orangnya serius (dia ngaku sendiri wkwk), berfikir terbuka, suka menerima pendapat siswanya, perhatian kalau ada siswanya enggak paham atau membantu menjabarkan apa yang siswa maksud.  Hmm,dia bisa juga sih diajak bercanda kalau diluar jam ngajar. Terakhir kali aku iseng ngasih dia tantangan bahasa gaul dari Indonesia yang dia tau, respond dia senyum senyum aja dan menerima tantangan itu haha. Dari dua kata bahasa gaul, satu dia bisa jawab dan satu enggak. Nanti, bahasa gaul yang belum terjawab akan kutagih lagi minggu depan he he he (maafkan muridmu ini ya Sir).

Aku dapet ide itu gara-gara John, teman sekelasku dari Texas USA, ngomong kalau Mr. Karl fasih ngomong bahasa Indonesia. Trus aku tanya ke John, Mr. Karl bisa 'bahasa gaul' enggak. Dia bingung bahasa gaul itu apa, malah ngikutin aku ngomong 'bahasa gaul?' Lucu banget deh. Trus aku bilang bahasa gaul itu bahasa informal yang biasanya digunakan untuk ke teman. Dia ngangguk-ngangguk senang bisa dapet kosakata bahasa Indonesia baru. Pas aku tanya dia bisa bahasa Indonesia enggak, dia jawab "Dikit". Aku tuh enggak nyangka dia friendly banget dan gampang berbaur di kelas. Padahal dikelas aku tuh diem loh kecuali pas kelas berlangsung. You know, dari 8 orang cuma aku yang pake kerudung dan hanya 2 orang dari Indonesia. Sisanya ada yang dari Afrika Selatan, India, Singapura, USA dan masih banyak lagi. First day in the class, I feel I wanna run out from this class. It feels like why am I here? What kind of the world is this? What if they don't wanna be a friend to me? What if bla bla bla. Then, thanks to Mr. Karl who makes this class enjoyable and there's no gap between who is the smartest or kind of like that. Semua murid berbaur memberikan ide dan pendapat, dan semua dihargai sama oleh Mr. Karl. Kembali lagi ke John, ternyata dia anak magang di Indonesia dan baru berada disini sekitar 3 bulan. Sebelumnya dia pernah magang di Kamboja beberapa bulan juga. Pas aku tanya impression dia soal Indonesia, dia senyum sumringah banget sambil ngomongin orang-orang Indonesia dan juga makanannya. Bahagia gitu, aku cuma senyum nahan ketawa.

Terus, temen-temen dari Indonesia, Afrika Selatan dan Singapura ikutan nimbrung. Temenku yang dari Afrika Selatan ini (serius, aku belum tau namanya tapi dia ramah banget) nyeritain keluarganya yang super sekali. Semua negara nyampur jadi satu. Biasanya kan orang Afrika Selatan kan kulitnya hitam,tapi dia beda. Wajahnya kayak Arab tapi ada (freckles) bintik-bintik hitam khas orang Eropa. Badannya agak berisi dan gaya pakaiannya kayak muslim Eropa. Eh, ternyata ayahnya berasal dari Arab dan ibunya berasal dari Irish. Dia cerita kalo beberapa kata bahasa Indonesia ada yang mirip sama bahasa Afrika. Ternyata, peradaban Islam di Indonesia menyebar ke Afrika dan salah satu pelopornya adalah Syekh Yusuf dari Makassar Indonesia. Wah, aku enggak nyangka loh, merasa bangga jadi orang Indonesia hehe. Kita berlima pun seru ngobrolin tentang Indonesia. Oiya, karena beberapa temanku enggak bisa bahasa Indonesia, mereka bingung ngomongnya gimana karena ibu penjualnya engak bisa ngomong bahasa Inggris. Jadi, aku bantuin mereka saat jajan di kantin dan gak nyangka John mentraktir jajanku yang cuma 2000 perak karena aku enggak punya uang kecil. It feels like wow, we're trying to make friendship works although we're different.

Perasaanku disana punya temen-temen real life dari berbagai macem kultur dan budaya sih seneng dapet pengalaman baru, belajar saling menghormati satu sama lain dan masih banyak lagi. Tapi, yang perlu digaris bawahi dan diingat untukku disini adalah aku harus mempertahankan nilai-nilai budaya yang ditanamkan di diri aku sejak kecil. Contohnya, kuakui beberapa dari temanku itu suka minum bir, ngerokok dan pesta. Yang menurut aku ini enggak cocok dengan aku. Soalnya ada beberapa dari mereka ada yang ngerokok. Aku dari dulu memang anti rokok dan gak bisa tahan lama sama asap rokok. Aku gak suka ketika bajuku bau asap rokok padahal aku enggak ngerokok. Jadi, aku mempunyai batasan-batasan tententu dalam bergaul dengan teman lainnya. Aku akan menjadi diri aku sendiri, berteman dengan orang-orang luar bukan berarti aku harus mengikuti gaya mereka untuk mendapatkan pengakuan. Tetapi lebih tepatnya menunjukkan ini loh salah satu orang Indonesia yang ramah dan tau sopan santun ke sesama. Jika kalian menghargai nilai-nilai budaya Indonesia, aku akan menghargai budaya kalian, begitu....

Aku bersyukur dan berterimakasih telah diberi kesempatan mengenyam TESOL Training disini selama 3 bulan lebih. Nanti saat lulus, kami akan diberikan sertifikat CELTA (Ceritificate in Teaching English to Speaker of the Other Language) yang hanya bisa digunakan di Indonesia saja. Aku berharap selain ilmu yang bisa didapat disini, bisa juga membangun relasi dan juga bisa membuka jalan menuju mimpi besarku. Aamiin. Yapp, mungkin sekian dari ceritaku. See you di cerita selanjutnya yaaa....

Btw, sorry enggak ada foto karena trainingnya masih baru hehe. Masih berusaha membaur dengan yang lain juga.
Share:

Senin, 04 Februari 2019

My airlines 23

Aku masih ingat perjalananku untuk pertama kalinya setelah sekian lama enggak naik pesawat. Sebelum berangkat pun, gerimis menemani. Tapi aku tetap berangkat karena tiket pulang-pergi sudah di beli dan pantang banget mundur. Saat itu perasaan senang dan gelisah campur aduk jadi satu. Senang, akhirnya bisa naik pesawat lagi. Gelisah karena kita enggak tau ajal kapan datang. Setelah aku mendapatkan nomer kursi untuk duduk, aku terus berdoa agar diberi keselamatan hingga di tempat tujuan. Hingga pesawatpun lepas landas, Tak menyangka, ternyata naik pesawat tidak semenyenangkan seperti dahulu saat aku masih kecil. Terlalu banyak turbulence (goncangan) dan aku hanya bisa melihat warna awan abu-abu dari jendela pesawat. Frustasi, aku hanya bisa berdoa dan terus mengucapkan Asmaul Husna. Ingin sekali aku cepat-cepat menapaki bumi dan sampai di tempat tujuan.
Terbang saat di cuaca sangat mendung (Source: Pribadi)
Begitulah yang sedang aku rasakan sekarang. Terlalu banyak guncangan. Saat aku mencoba mencari secercah harapan, hanya warna abu-abu yang kutemukan. Kosong. Ingin sekali aku mundur dari penerbangan hidup ini, tapi aku tidak akan bisa. Sama halnya seperti tiket yang sudah dibeli. Aku enggak bisa mundur gitu aja. Saat aku memaksakan diriku untuk terus melangkah, awan semakin tebal, menganggu jalan pesawatku sehingga terjadi guncangan. Terkadang, sempat terpikirkan olehku saat berada di dalam pesawat, "Mungkinkah sudah saatnya?" Namun, aku terus berharap yang baik-baik.

Pesawat hidup yang kutumpangi memang sepertinya sudah usang dan rusak alias tidak layak jalan karena terlalu sering terbang dalam keadaan cuaca buruk. Orang-orang pasti akan bilang 'kenapa tidak diperbaiki saja?'. Namun bagaimana? Memang benar, menasehati orang lain itu lebih gampang, ketimbang menasehati diri sendiri. Mudah bagiku untuk menuliskan kata-kata bijak, mudah bagiku untuk memberikan kata-kata semangat untuk orang lain, tapi tidak pernah mudah bagiku untuk bangun dan menegakkan diri ini.

Atau orang-orang itu memberi saran lain seperti 'terbanglah saat cuaca cerah'. Andai saja aku bisa memilih cuaca layaknya main game The Sims. Bayangkan, disaat penumpang sudah bayar mahal-mahal tiket pesawat, lalu di delay beberapa jam atau di cancel, bagaimana perasaannya? Jengkel pasti dan sudah kapok tidak mau memilih penerbangan itu lagi. Begitu juga dengan pesawatku ini, harus tetap terbang bagaimanapun caranya.

Pesawat ini semakin ringkih karena bertambahnya usia. Sudah 23 tahun pesawat ini terus terbang dari satu tempat ke tempat lain. Dan penerbangan terburuk yang pernah kurasakan adalah penerbangan saat pesawat menginjak 20-an tahun. Berbagai macam cuaca buruk aku lewati satu persatu dan butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Aku tau pesawat ini memang sejak dibuat hingga berumur 20 tidak pernah latihan untuk terbang, selalu disimpan baik dan rapi di tempat penyimpanan pesawat dengan fasilitas yang WAH. Beberapa orang akan melihat pesawat ini seperti pesawat mahal, padahal kenyataannya pesawat ini payah dalam urusan terbang saat di cuaca buruk. Butuh bertahun-tahun untuk memperbaikinya. Karena terlalu sibuk memperbaiki, untuk meng-upgrade pesawat pun tak pernah ada waktu.

Karena jarang ada yang memberikan perawatan, pesawat ini hanya bergantung pada diri ini sendiri dan beberapa bantuan orang disekitar. Lelah? Ya, sangat melelahkan dan rasanya ingin berhenti terbang. Lagi, aku tak punya pilihan. Bagaikan pesawat yang sudah terjadwal, mau enggak mau harus tetap terbang. 

Penerbangan berikutnya yang berakhir dengan indahnya wajah bumi dari atas (Source: Pribadi)
 Pepatah mengatakan setelah badai muncul lah pelangi. Misalnya, dibalik awan putih pekat itu, terdapat wajah bumi yang cantik yang sayang untuk dilewatkan. Dari dalam pesawat, aku bisa melihat anak sungai mengalir dari bukit tertinggi melewati hutan yang rindang lalu berakhir di ujung pantai. Atau cahaya-cahaya lampu yang tersusun rapi yang menyala saat di malam hari. Semuanya terlihat menakjubkan. 

Aku tersadar, memang awan tebal dan keindahan wajah bumi ini tidak ada yang abadi. Semuanya saling melengkapi untuk bisa dipetik hikmahnya. Namun, yang kuheran mengapa penumpang di dalam pesawat itu lebih sering membicarakan guncangan di pesawat, ketimbang panorama indah dari pesawat?

Pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan yang ku tuju kan untuk diriku sendiri. Aku juga tidak mengerti dan jawaban yang relavan saat ini adalah karena sudah sifat manusia lebih peka terhadap kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan daripada yang menyenangkan.

Pesawat ini jauh dari kata sempurna, masih harus banyak melewati trial and error-nya. Tetapi, aku masih berharap pesawat ini terus menguat untuk menghadapi cuaca yang lebih buruk lagi, hingga akhirnya bisa melesat terbang tinggi jauh disana. Hidupku belum selesai sampai disini, masih banyak tempat yang ingin aku kunjungi agar aku bisa lebih mengetahui diriku sendiri dan juga lebih bersyukur apa yang sudah aku punya. 

Pesawat terbangku, mungkin sayapmu terlihat retak tapi lihat kamu tidak sendirian. Masih banyak pesawat lain yang harus lebih berjuang terbang mati-matian karena sayapnya yang patah. Janganlah takut dengan awan tebal itu, karena saat kau melewatinya kau akan melihat sisi dunia yang tidak akan pernah kau lupakan. Hingga tiba saatnya suatu hari nanti penerbanganmu berakhir dan kau tersenyum bangga karena setidaknya kau berani melewati semuanya bahkan saat cuaca buruk sekalipun. Aku akan terus berdoa, sama seperti halnya saat aku ketakutan naik pesawat dengan hamparan awan berwarna abu-abu yang pekat.

Dear my airlines 23, I know you're strong enough. If not, you will never overcome many bad weathers since the beginning. I'm proud of you. Don't give up easily at least you've tried. Don't always procrastinate what you have to do. I know it sounds easy but hard to do, but I know you can do everything you want. Cheers!
Share:

Sabtu, 26 Januari 2019

Singapura: Empat Ras Satu Harmoni (Part 3)

Hari terakhir pun tiba, antara senang dan sedih tercampur jadi satu. Senang karena kembali ke Jakarta karena sudah tidak sabar makan makanan khas Indonesia, tapi sedih juga karena sudah dibuat nyaman dengan suasana yang tenang, rapi dan asri di negara ini hehe. Untuk kalian yang belum baca part sebelumnya, klik Part 1 dan Part 2.

Foto bersama Masjid yang pertama baru dibangun, Masjid Sultan (Source: Pribadi)
 5. Day-3
Karena hotel pilihan kami ada kolam renangnya di lantai paling atas, kami memutuskan pagi-pagi kesana. Di terik matahari yang hangat, kami mencuci kaki di pinggir-pinggir kolam renang yang dilengkapi dengan jacuzzi (pemandian air hangat). Alesan kami tidak berenang adalah waktu kita di Singapura terbilang sebentar dan kurang lama (he he), dan pakaian yang kami bawa tak banyak. Next time, kalau ada kesempatan mau nyobain jacuzzi disana. Pemandangan di atas juga enggak kalah cantik dan sejuk. Di depan kolam renang ada jalan Victoria Street yang sering kami lewati dengan pepohonan yang hijau di setiap pinggir jalannya. Sedangkan di belakang hotel kami, ada bangunan tua seperti di Kota Tua berjejer rapi layaknya seperti di Eropa.  Setelah puas berfoto-foto dan main air sekaligus sarapan, kami pun berjalan kaki mengelilingi daerah Bugis disekitar hotel.
Istana Kampong Glam (Source: Pribadi)

Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Istana Kampong Glam dimana istana Melayu bersemayam disana. Saat kami berjalan disana, banyak warung makanan disana yang menjual makanan khas Melayu bahkan ada juga Indonesia. Tapi sayang, jam 8 masih tutup wkwk. Ketika kami memasuki istana-nya, memang sangat sederhana namun tetap asri. Sebenarnya kami bisa saja memasuki istana-nya di dalamnya, sayang masih tutup haha. Enggak apa-apa lah bisa narsis dulu di depan istananya.
Masjid Sultan (Source: Pribadi)
Perjalanan kami berlanjut ke Masjid Sultan. Kali ini masjid-nya lebih cantik daripada sebelumnya. Masjid yang lebih besar yang dilengkapi dengan fasilitas lift ini dan juga kubah emasnya, exterior dan interiornya yang mewah membuat kami takjub. Awalnya kami hanya bisa melihat-melihat dari luar masjid karena tertulis pengunjung tidak boleh masuk karena masjidnya masih dibersihkan. Tetapi, ada laki-laki dengan wajah khas Melayu-nya menyapa kami dan meminta kami berwudhu (ia mengira kami ingin sholat). Kami pun melipir ke tempat wudhu sekaligus toilet disana. Layaknya seperti toilet di bandara Soetta, kami menemukan toilet dan tempat wudhu yang sangat bersih. Toilet disana benar-benar sudah update dengan push di dinding. Dan juga tempat wudhu khas disana adalah dengan shower dan juga tempat duduk di depannya. Pangling sekaligus takjub. Setelah itu, kami bergegas masuk ke dalam masjid. Wahh benar-benar luar biasa, mirip Masjid Kubah Emas. Saat kami masuk kedalam, kami disambut dengat layar interaktif dimana kami bisa mengetahui sejarah Masjid ini berdiri dan juga renovasi yang telah di lakukan selama ini. Usut punya usut ternyata masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun di negara ini. Menariknya lagi adalah dulu pertama kali masjid ini dibangun mirip sekali masjid tua yang terbuat dari kayu di Indonesia. Ternyata yang membangun adalah orang Jawa yang berdagang disana. Untuk melihat fakta menariknya kalian bisa klik disini. Ada perasaan bangga ternyata orang Indonesia dulu pintar sekali berdagang dan sudah sampai kemana-mana dan juga bisa membangun masjid disana. Next, aku menemukan banyak tulisan-tulisan yang menjelaskan apa itu Islam? Mengapa Islam menghormati kepercayaan yang lain? dan masih banyak lagi. Yang menariknya disini ada suara panggilan adzan melalui headset. Wah, sudah tiga hari ini enggak dengerin adzan karena kamarnya di basement dan selalu naik MRT bawah tanah kemana-mana. I've never thought that I would miss this a lot.

Haji Lane (Source: Pribadi)
 Setelah puas di Masjid, kami pun pergi ke Haji Lane. Aku kira isinya pernak pernik barang Haji ternyata oh ternyata hanya toko biasa yang menjual pakaian jadul dan oleh-oleh khas Singapore seperti biasa. Tapi ada yang unik disini, toko-toko disini di cat kreatif dengan gambar artistik dan cocok buat foto-foto disana. Kami pun berfoto-foto disana hehe.

Then, kami pun kembali ke hotel untuk check out.Tak lupa uang deposit 100 SGD kami dikembalikan, hehe lumayan buat tambahan oleh-oleh nanti. Karena tempat selanjutnya kami masih mau belanja di daerah Mustafa Center, kami pun menitipkan koper kami di hotel tanpa biaya tambahan apapun. Kami pun berjalan keluar dari hotel menuju ke Mustafa Center sejauh hampir 1 km. Gemporrr nih kaki makin lama diajak jalan jauh tiga hari penuh wkwk. Perutku tumbenan sudah lapar padahal sudah sarapan tadi, heu mungkin sarapannya kurang berfaedah tadi pagi wkwk.
Mustafa Center (Source: Pribadi)
Sesampainya di Mustafa Center, kami masuk kedalam mall-nya. Sebenarnya Mustafa Center ini adalah mall besar terlengkap dan termurah dari barang elektronik, perlengkapan mandi, jajanan dan masih banyak lagi deh. Bahkan aku disana menemukan kerupuk-kerupuk khas Indonesia, pengen beli tapi sayang masih murahan di Jakarta haha. Akhirnya aku dan temanku membeli oleh-oleh yang lain. Yang paling khas oleh-oleh di Singapura adalah cokelat. Yah walaupun bentuknya doang yang menyerupai Merlion khas Singapore, tapi tetep aja cokelatnya dibuat di Malaysia. Kami tertipuu wkwk. Anyway, beli-beli juga akhirnya haha. Ada hal yang unik juga saat aku mencari Yoghurt, eh malah ketemu Yakult dengan ukuran yang tidak biasa. Kalau di Indonesia isi 6 kecil-kecil. Ini isi 5 dan satu botolnya isi 100ml. Waaa, jadi keinget dirumah pasti doyan ini, langsung beli satu. Tak banyak oleh-oleh yang aku beli, yang penting cukup. Cukup di kantong hahaha.
Sri Veeramakaliamman Temple (Source: Pribadi)
Puas berbelanja, kami pun melipir ke Little India. Saat memasuki kawasan Little India, di atas jalan raya ada gambar orang, gajah dan sapi khas India. Kami pun sampai di Sri Veeramakaliamman Temple dimana tempat orang India beribadah. Hampir mirip Temple yang berada di Chinatown, tapi ini lebih ramai dan penuh dengan suara terompet khas India yang ditiup dengan kencangnya. Kali ini kami bisa mengambil foto di dalamnya. Tapi, tetap saja karena banyak sekali patungnya jadi takut sendiri, takut ntar tiba-tiba loncat dan hidup hehe. Hanya sebentar kami disana, karena perut kami benar-benar lapar. Nyari sana kemari engga ada restoran yang pas, akhirnya kami pun naik MRT dari stasiun Little India ke stasiun Bugis.

Perjalanan terakhir ini, bisa dibilang sangat melelahkan. Dari perut keroncongan tapi lidah sudah kangen berat sama masakan Indonesia dan barang belanjaan kami yang yah agak berat. Kami pun memutuskan makan makanan KFC dengan harapan nasi dan ayamnya sama kayak di Indonesia. Dannn apa yang terjadi bung, menu-nya beda banget dan maahalll hahaha. Kami pun membeli ayam 2 potong ditambah sup jamur dan sayur-sayuran plus minuman cola seharga 8 SGD. Lalu, ditambah 2 porsi nasi seharga 2 SGD. Oke, Colanya sama kayak  di Indonesia, tapiii lagi-lagi rasa ayam dan nasinya aneh. Lain kali kalo mau travelling ke luar negeri bawa abon atau peyek dah ah. Bener-bener menyebalkan. Kenyang sih tapi enggak puas di lidah.
Bugis Street (Source: Pribadi)
Setelah makan, kami pun lanjut belanja baju di Bugis Street. Kirain ya bakalan murah, eh engga taunya ngalah-ngalahin merk baju Zara dan kawan-kawannya yg ada di mall gede. Rata-rata baju disana mahal-mahal jualinnya. Aku yang mau beli jadi malas dan juga model-modelnya untuk wanita berkerudung sepertiku pasti mahal banget. Skip, aku cuma lihat-lihat aja deh kecuali temenku beli baju untuk adiknya. Setelah capek naik-turun, akhirnya kami beristirahat dan makan es krim. Kebetulan ada es krim Walls Sandwich disana, mengingatkanku dengan Tanah Air. Saat aku lihat dibelakang keemasannya, akhirnya ada makanan yang dari Indonesia. Aku makan dengan lahap karena rasanya sama kayak di Indonesia.
Penampakan di depan Hotel (Source: Pribadi)
Sudah puas berbelanja, kamipun meluncur ke hotel untuk mengambil koper. Sempat temanku mengajakku ke Pasir Ris untuk beli album favoritnya dia. Tapi, serius aku benar-benar lelah. Kakiku minta demo kalau harus jalan kaki lagi. Finally, kami pun langsung cabut ke Changi Airport dengan menggunakan MRT. Setelah sampai, kami mengembalikan kartu Tourist Pass kami untuk mendapatkan deposit 10 SGD. Yeayy, pemasukan wkwk. Kami pun mencari terminal 1 dan diarahkan ke kereta cepat menuju kesana tanpa membayar sepeserpun. Ada kejadian yang lucu saat kami di Terminal 1. Temanku bertanya kepadaku tentang penukaran uang dilakukan sekarang atau pas di Bandara Soetta, dengan entengnya aku jawab terserah. Kami pun akhirnya menukarkan uang sebelum Check-in pesawat. Kukira dia sudah paham untuk menyisakan beberapa uang SGD kalau nanti ada apa-apa. Dan, ternyata dia kasih semua uang SGD yang dia punya ke money exchanger. Aku bingung, pengen bilangin tapi duitnya udah dikasih duluan. Alhasil setelah check-in pesawat, kami berdua lapar. Aku hanya menyisakan 5 SGD di dompet yang hanya cukup makan satu porsi. Sempat kami menertawakan kebodohan kami berdua haha. Untungnya di koper, dia masih ingat ada sisa 50 SGD didalamnya haha. Kami pun tidak jadi kelaparan di bandara. Aku pun menyarankan untuk membeli SubWay. Restoran sandwich yang terkenal di Korea dan slalu muncul di drama-drama (emang dasar bucin). Cukup mahal karena kami memesan porsi seharga 6.80 SGD haha saking penasaran rasanya kayak gimana. Sandwich dengan roti lembut khas Italia yang didalamnya berisi ayam teriyaki, sayur kol, dan tomat ditambah saus BBQ, mayonaise dan saos pedas menjadi makanan terenak yang pernah kucoba, kecuali ayamnya. Tetep sama aneh rasanya, sedangkan sayur-sayurannya benar-benar fresh dan bikin nambah lagi dan lagi. Sayang bung, baru separoh sandwich ukuran lumayan besar ini sudah membuatku kenyang. Akhirnya, aku simpan untuk dimakan lagi saat di bandara Soetta.
Foto di depan Social Tree, yeay (Source: Pribadi)
Waktu kami untuk berangkat tinggal beberapa jam lagi. Sengaja datang lebih awal ke Changi airport karena kami mau mainan di bandara. Dan mainan di Terminal 1 adalah Social Tree. Cocok dan pas banget buat foto-foto alay dan dipajang di Social Tree wkwk. Jadi disana tersedia kamera dan screen untuk berfoto ria. Lalu, tinggal klik untuk jepret foto dan edit. Setelah itu kirim ke email dan geser keatas untuk memindahkan foto ke Social Tree. Di pohon itu ada layar yang gede banget dan tadaaa foto yang di edit tadi sudah terpampang jelas di layar tersebut.

Puas mainan di Social Tree, dan berfoto-foto ria di daerah lobby terminal 1. Kami pun cus ke tempat waiting room. Tapi ada yang janggal dengan tiket pesawatnya. Belum tertera nomer Gate berapa pesawat kami menaikkan penumpang. Akhirnya kami pun bertanya kepada staff informasi disana. Staff berwajah berwajah khas Chinese pun memberikan kami nomer Gate-nya. Ada yang lucu saat aku bertanya dengan staffnya. Aku bertanya dengan bahasa Inggris, namun dia jawab dengan Bahasa Melayu/Indonesia dengan logat Chinese-nya yang kental. Dia mengingatkanku dengan teman Taiwanku, pengucapan bahasa Indonesia-nya mirip sekali dengan mbak staffnya. Benar-benar imut.

Kami pun akhirnya menemukan Gatenya dan terbang ke Indonesia dengan selamat. Sesampai bandara, aku dan temanku agak pangling dengan udara Jakarta yang terasa: SUMPEK dan berpolusi. Waduuu, giliran sudah terbiasa dengan udara bersih Singapura, nyampe Jakarta harus penyesuaian lagi wkwk.

Perjalanan travelling pertama kali ke luar negeriku sangat berkesan dan bener-bener terasa liburannya. Semua terasa asing dan baru, tapi kami sangat menikmatinya. Enggak kapok deh jalan-jalan ke Singapura untuk traveler pemula. Aman dan sangat berkesan. Andai teman Singapura-ku masih tinggal disana, akan lebih seru lagi hihi. Karena selama kami perjalanan, dia terus mengirimi aku DM di IG dan memberikanku saran tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi, juga mengingatkanku untuk berhati-hati dengan tasku saat di tempat ramai. She's like my third mom, thank you very much for her kindness. Sampai jumpa lagi di cerita travelling selanjutnya, byebye.
Share:

Minggu, 20 Januari 2019

Singapura: Empat Ras Satu Harmoni (Part 2)

Setelah curi-curi waktu luang, akhirnya bisa melanjutkan menulis pertualangan backpacker ku di Singapura. Untuk kalian yang belum baca cerita Part 1 klik disini. Pertualanganku belum usai, banyak hal-hal baru dan unik yang kutemukan saat di perjalanan Singapura. Penasaran? Teruss baca ya hehe....
Narsis dulu di Bola Muter wkwk (Source: Pribadi)
4. Day-2
Pagi-pagi jam 6 waktu Singapura aku terbangun karena alarm ku berbunyi sebagai tanda waktu Shubuh. Setelah sholat, bersih-bersih diri kami sarapan Pop Mie di kamar karena kamar yang kami pesan No Breakfast alias enggak pakai sarapan. Ini sebagai tips buat kalian juga kalau bener-bener mau irit makan pop mie buat sarapan. Sebenernya enggak sehat sii, but we have no choice. Jam 6-9 pagi, warung makan disana pada belum buka.
"TIPS: Untuk kalian yang mau berhemat, sarapan-lah P*P Mie wkwk"
Setelah keluar dari hotel, sebenarnya kami mencari air minum. Kebetulan air minum botol di hotel menurut kami masih kurang, mengingat kami akan sering berjalan kaki hingga malam. Di hotel pun disediakan air minum juga, tapi infused water alias air putih yang dicampur lemon. Aku enggak begitu suka itu karena rasanya yang asam. Sedangkan Tap Water yang kami tau, hanya tersedia di Changi Airport dan Sentosa. Kami pun memutuskan untuk mampir ke Seven Eleven untuk membeli botol air minum dan kartu perdana Singtel demi menunjang Google Map kami haha. Sudah males nyasar trus macem anak ilang dan kalau mau bertanya arah bingung juga karena enggak ada security atau satpam. Disana air minum kemasan harganya 1.8-2 SGD. Lumayan mahal haha, tapi lebih baik beli deh daripada kehausan nanti.
"TIPS: Usahakan selalu membawa botol air minum dan mencari Tap Water yang biasanya nangkring di tempat-tempat wisata seperti Changi Airport dan Sentosa, mumpung gratis dan menekan biaya pengeluaran hehe."
Welcome to Chinatown (Source: Pribadi)
Tepat pukul jam 8.30 pagi, kami ke stasiun Bugis menuju ke China Town. Stasiun Bugis dan Chinatown sangat dekat sekali, baru duduk di MRT sudah sampai di tempat tujuan. Di sana kami melihat ornamen ornamen etnis China menghiasi jalanan Chinatown. Maklum karena sebentar lagi tahun baru Cina. Disana, mulanya kami ingin berbelanja tapi lagi-lagi toko masih tutup. Akhirnya kami menuju ke Sri Mariamman Temple. Ada yang unik dengan penataan tempat ibadah disini. Disamping kiri Sri Mariamman Temple adalah Masjid Jamae (Chulia) sedangkan di sebelah sisi kanan adalah Budha Tooth Relic Temple. Ini mengingatkanku dengan buku jaman SD dimana gambar-gambar tempat ibadah digambarkan saling berdampingan satu sama lain. Aku masih ingat pelajarannya yang intinya sesama agama, kita harus menghormati agama lain. Dan akhirnya, gambar itu jadi kenyataan disini wkwk. 

Sri Mariamman Temple (Source: Pribadi)
Sri Mariamman Temple adalah tempat ibadahnya orang India. Aku dan temanku saling berpandang-pandangan, antara masuk atau enggak ke tempat ibadahnya itu. Kami melihat orang India masuk sambil mengulurkan jari-jari tangan kanannya ke tanah lalu menaruhnya ke dahinya. Dalam hati, "Mereka sedang apa? Apa itu cara salam mereka?" Karena penasaran, kami akhirnya memutuskan masuk ke dalam. Disana sudah tercium wangi bunga dan juga terlihat banyak patung-patung khas India. Karena disana dilarang foto-foto kami pun hanya melihat-lihat. 

Budha Tooth Relic Temple (Source: Pribadi)
Setelah puas, melihat-lihat kami pun ke Budha Tooth Relic Temple dimana orang Cina beribadah. Dari luar sudah terlihat jelas arsitekturnya yang Cina banget dengan warna merah menyalanya. Kami pun masuk ke dalam, dan ternyata bangunan ini mempunyai 4 lantai dan 2 lantai basement, dan kebetulan juga orang Cina disana pagi-pagi sedang beribadah. Kami pun naik lift ke lantai M, 2, 3, dan 4 yang masing-masing terdapat museum yang berbeda-beda. Ada museum sejarah agama Budha terbentuk, Koleksi patung-patung dari berbagai belahan dunia, kendi-kendi yang berisikan abu yang menurut kami adalah makam dan juga ada taman di lantai paling atas. Agak lama kami disana karena setiap lantai kami kunjungi dan ini mengingatkanku kepada film Cina yang pernah kutonton. Aku merasa bahwa ini terlihat mirip dengan Sri Mariamman Temple karena banyak sekali patung-patungnya.
Taman di Budha Tooth Relic Temple

Di sebelah kanan aku ada ptung kecil-kecil yang bisa sampai ribuan sedangkan di kirku ada taman dengan 2 kolam ikan di dalamnya (Source: Pribadi)
Finally, pemberhentian terakhir Masjid Jamae (Chulia). Tempat Ibadah orang Islam yang sederhana dan enggak neko-neko. Kami mampir dan aku pun sholat disana. Ada yang menarik dari keran di setiap masjid disana. Keran disana itu seperti shower dan di depan keran terdapat tempat duduk. Awalnya aku bingung tempat duduk ini untuk apa? Saat aku lihat mbak-mbak berwudhu, dia duduk sambil mengambil air wudhu. Dalam hati, enak banget ini enggak perlu capek-capek berdiri wkwk.

Selesai sholat, kami pun meluncur ke Chinatown market. Akhirnya toko-toko disana sudah pada buka. Dan kami pun mulai berburu berbelanja untuk oleh-oleh. Disana, mereka menjual berbagai macam souvernir seperti pajangan lemari, gantungan kunci, topi, kipas, tas dan masih banyak lagi yang berbau Singapura dan juga khas Cina. Ada hal yang menarik saat kami berbelanja disana yaitu tulisan tradisional Cina dengan nama kita sendiri atau bisa juga dengan nama pasangannya. Mereka menjualnya dari harga 5 - 20 SGD. Menurutku terlalu mahal, mending buat makan enak diluar hehe.

Puas berbelanja, kami pun mencari makan siang. Karena di Chinatown kami tidak menemukan tempat makan halal, kami pun melipir ke Hawker (semacam berbagai warung makanan murah jadi satu ada disana) berkat Mbah Google Map. Temanku menyarankan untuk mencoba makanan Cina yang terkenal disana. Tapi aku masih ragu karena enggak ada logo halalnya. Akhirnya, aku memilih makan nasi dan ayam lagi yang bertuliskan logo halal disana. Seperti biasa, rasanya sama kayak Nasi Lemak. Oiya, ada hal bodoh yang kulakukan saat makan disana. Makanan yang penjual kasih selain nasi dan ayam ada mangkong yang berisikan air dan lemon. Bodohnya aku adalah aku mengira itu adalah kobokan untuk cuci tangan HAHAHAHA. Tanganku langsung kepanasan dan aku malu sendiri. Untung temanku saja yang lihat. Hedehh, wong ndeso tenan aku di negeri orang wkwk. Ada juga hal unik terjadi. Saat aku mencari meja makan, ada tiga wanita muda yang berwajah Cina yang bertanya kepada kami kalau tempat duduknya kosong atau engga. Lalu kami jawab enggak. Saat aku lihat makanan yang mereka pesan porsi mereka gede dan ada seafoodnya. Yummy, makanan mereka kelihatan enak. Mereka berbicara bahasa Cina, duh rasanya pengen ikutan nimbrung. Aku ngerti beberapa kata yang sering aku dengar di TV Cina. Tapi enggak ngerti secara keseluruhannya. Mungkin kalau aku sering dengerin orang ngomong Cina setahun disini, aku paham. Ini sama seperti ketika aku mendengarkan orang Jawa ngomong, aku paham apa yang mereka maksud tanpa harus belajar formal karena terbiasa mendengarkannya.

Rencana pembangunan Singapura di Singapore City Gallery (Source: Pribadi)
Next, kebetulan disamping ada Singapore City Gallery. kita mampir sebentar disana. Di dalamnya, kami takjub dengan kreativitas mereka menyusun Gallery sedemikian rupa dan semenarik mungkin. Di Lantai pertama, kami melihat peta Singapura ukuran jumbo dengan jalanan MRT-nya. Setelah aku lihat ternyata dari Changi Airport ke Stasiun Bugis tempat dimana hotelku berada, ternyata lumayan jauh. Sedangkan Chinatown sangat dekat sekali dengan Bugis. Karena perjalanan selanjutnya kami ke Sentosa, ternyata enggak begitu jauh dari stasiun Chinatown. Selanjutnya, kami pun naik ke lantai 2, dimana karya-karya anak-anak Singapura di pampang disana sebagai bentuk apresiasi. dan disebelahnya ada sejarah Singapura dari jaman sebelum perang, setelah perang sampai saat ini. Singapura sebelum perang, ternyata warganya kebanyakan hanya bermata pencaharian nelayan. Lalu di tahun 1965, Singapura di beri kemerdekaan dan setelah itu melakukan banyak pembangunan yang pesat. Di tahun 60-an setelah pasca perang, Singapura adalah kawasan yang kumuh. Ini terlihat dari foto-foto yang terpampang disana dan mereka harus menghadapi sulitnya mempunyai tempat tinggal saat itu, ditambah lagi lahan disana sangatlah kecil. Usut punya usut, temanku bilang kalau di tahun 60-an, karena di Singapura banyak ras dan etnis yang sangat berbeda, pemerintahan disana membuat peraturan untuk mejaga keharmonisan antar ras. Anak-anak mereka di didik sejak kecil tentang tolenransi suku dan budaya. Sempet terbesit di pikiranku, kalau aku punya banyak teman dari berbagai negara di Singapura, itu mungkin seru. Selanjutnya, di tahun 70-an, rakyat Singapura sudah bisa merasakan MRT. Haha jangan bandingkan sama sini ya nak. Lalu di tahun 80an, Singapura berusaha membuat lingkungannya menjadi tempat yang nyaman dan ramah lingkungan. Di tahun 90an, pemerintahan berusaha menuntaskan angka pengangguran. Dan yang terakhir di abad 20, Singapura kini telah menjadi magnet pariwisata dan juga bisnis. Sayang sekali, saat aku mau baca keterangannya, malah dipagerin enggak boleh masuk karena sedang diperbaiki. pffttt....

Perjalanan kami berlanjut ke Sentosa Island. Dari Stasiun Chinatown kami turun di stasiun Harbour Front lalu membeli tiket kereta ke Sentosa Island dengan membayar 4 SGD sepuasnya. Tiket itu bisa dipakai naik kereta berkali-kali. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi Universal Studios yang terkenal dengan bola dunia-nya yang ikonik. Oiya, kalian bisa masuk ke dalam dengan membayar 700ribuan wkwk. Mahal cyn, jadinya foto di depan bola dunia sudah cukup lahhh wkwk. Next, kami berjalan kaki menemui Merlion Sentosa. Di dalam Merlion Sentosa kalian bisa naik ke atas ke dalam mulutnya singa itu. Jadi, dari atas kalian bisa melihat pulau Sentosa dari atas, tapi lagi-lagi harus bayar hahaha. Di pulau Sentosa ini banyak banget spot-spot bagus, cocok nih buat kalian yang suka ngisi feeds ig biar kekinian. Anyway, kami lanjut naik kereta Sentosa lagi karena terlalu lelah berjalan kaki terus (maklum enggak pernah jalan kaki wkwk). Destinasi selanjutnya kami ke Palawan Beach. Tetapi sebelum kesana, kami mengisi air minum dulu karena sudah mau habis. Tap water memang benar-benar penyelemat disana. Tidak sengaja, aku melihat botol aqua yang dipegang turis disana. Aneh, karena saat aku beli air minum di Seven Eleven enggak ada. Ternyata oh ternyata ada salah satu toko yang memang menjual Aqua disana. Wew, Aqua bisa sampai nyasar disini haha.
Angkat Bola Muter wkwk (Source: Pribadi)
Merlion Sentosa (Source:Pribadi)
Setelah mengisi air minum, kami lanjut berjalan kaki ke pantai Palawan hampir sekitar 900 meter. Gila, emang ini kaki udah gempor wkwk, but we have no choice. Dengan sabar, kami terus berjalan kaki dan akhirnya terbayarkan sudah lelahnya. Pantai disana masih cantik dan biru banget. Aku kira kayak pantai di Ancol, tapi ini enggak. Airnya masih jernih dan biru, pasirnya pun halus, putih dan bersih. Tidak ada satu titik sampah pun disana. Duh, puas banget disana berguling-guling di pantai hihi. Walaupun sudah sore, tapi matahari tetap bersinar cerah dan panas. Pantai ini membayar kekecewaanku saat ke Belitung yang jauh dari luar ekspektasiku. Karena aku suka sekali mengunjungi berbagai pantai Indonesia, pantai Palawan ini lumayan lah cuci mata. Seger lihat yang birunya laut, putihnya pasir lalu hijau pepohonan. Yang buat aku takjub adalah Singapura ini bener-bener keren merawat alamnya. Padahal dari atas pesawat, Singapura enggak kalah banyak industri-nya seperti di Jakarta. Disana, kami juga mengunjungi pulau Palawan kecil dengan menggunakan jembatan gantung. Turis dimanjakan sekali disana karena ada gazebo tingkat tiga untuk menikmati pemandangan pantai dari ketinggian. Wah ini cocok sekali saat melihat sunset, tapi kami memangkas waktu tidak sampai menunggu sunset karena agar tidak terlalu larut malam pulang ke hotel. Sebenarnya masih ada pantai Siloso dan Tanjong yang ingin kami kunjungi juga. Tapi ternyata jauh kalau jalan kaki hahaha.

Sesungguhnya pantai ini lebih bagus daripada di foto. Jembatan Gantung di pantai Palawan (Source: Pribadi)
Puas foto-foto dan menikmati pemandangan alam, kami pun melanjutkan perjalanan ke Orchard Road. Teman Singapuraku bilang kalau ke Orchard Road lebih cantik saat malam hari karena banyak lampu-lampu cantik disana. Tapi sebelum kesana, kami mengisi perut kami terlebih dahulu di foodcourt Vivo City. Karena bosan makan nasi dan ayam terus, kami pun memesan makanan Cina yaitu Mie Brisket (aku lupa nama panjangnya wkwk). Jadi makanan Cina ini berisikan mie dengan potongan daging sapi bagian dada bawah sekitar ketiak. Saat kami memesan, pertama-tama kami ditanya mau porsi besar, sedang atau kecil. Aku memilih porsi kecil karena memang sedang tidak nafsu makan dan sekaligus menghemat, sedangkan temanku porsi sedang. Porsi kecil diberi harga 6.80 SGD sedangkat porsi sedang 8.80 SGD. Selanjutnya, kami memilih mie jenis apa. Disana ada 5 jenis, ada yang bentuknya seperti mie ayam, kwetiau dan masih banyak lagi. Aku pun bertanya kepada pemilik tokonya, mana yang paling enak dan ada tiga jenis yang sering dipilih orang-orang. Akhirnya aku memilih mie dengan diameter terkecil karena baru pertama kali aku lihat mie sekecil itu wkwk. Hidangan yang kami pesan pun siap untuk dimakan, dan yummy enak banget. Apalgi kuahnya hangat dan segar, mie-nya juga enak, daging sapinya lembut sih tapi lagi-lagi rasanya sama saja seperti ayam. Duh, emang dasar lidahku lidah Indonesia wong ndeso, karena tiap hari dikasih makan tempe dan tahu wkwk. Aku lihat di jendela besar, angin bertiup kencang diluar dengan hujan yang sangat deras. Wah ternyata di luar hujan gede. Beruntung kita enggak kehujanan tadi di pantai. Timing-nya tepattt, sempet khawatir kalau kehujanan karena selalu mendung disana. Doa kami pun terkabul agar tidak turun hujan saat kami jalan-jalan di outdoor.

Mall ION, Orchard Road (Source: Pribadi)
Ok, urusan perut selesai kami pun meluncur ke Orchard Road. Dari stasiun Harbour Front kami menapakkan kaki di stasiun Orchard. Saat kami keluar dari stasiun, kami disambut hangat oleh ikan-ikan koi di atas kepala kita alias layar besar yang menempel di atap mall ION, Orchard Road itu. Cuma bisa geleng-geleng kepala, sejauh ini mall-mall mewah dan besar yang pernah kukunjungi di Jakarta enggak sekreatif ini. Dan disetiap mall isi tokonya barang-barang branded semua. Pantas saja temenku itu yang dari Singapura suka ngasih tau barang branded. Ya mana ngeh gueee dan gak minat juga kalo ada yang murah kenapa harus beli yang mahal haha. Kayaknya juga dia nganggep orang Indonesia kaya-kaya deh dan aku juga nganggep orang Singapura kaya juga karena kuat beli barang branded haha. Ok, kami pun keluar dari Mall ION dan menemukan betapa cantiknya cahaya lampu yang menghiasi mall itu. Iseng mikir juga, berapa tagihan yang harus dibayar per bulan ya? haha. Btw, tujuan kami ke Orchard Road bukan lihat lampu doang wkwk, tapi mau beli cokelat yang enggak di produksi di Indonesia. Aku ketagihan gara-gara temenku itu hadiahin aku itu cokelat yang dia beli di Choc Spot, Mall Lucky Plaza, Orchard Road. Nama cokelatnya adalah Milka ukuran 300 gram seharga 7 SGD. Kebetulan ada yang harganya 5 SGD dengan rasa yang berbeda tetapi expired-nya 2 bulan lagi. Enggak apa-apa deh, cokelat kan dimakan bareng-bareng nanti dirumah hehe.

Setelah dapet cokelatnya, kami pun pulang ke hotel jam 9 waktu Singapura. Waktunya istirahat di atas kasur yang nyaman dan wangi.... And see you again di perjalanan hari ke tiga-ku selanjutnya (Baca: Part 3) Terimakasih juga sudah membaca sampai bawah hehe.
Share:

Followers

Search This Blog

Embun yang Dingin / Lautan Cinta

  Berikut ada 14 bagian masa-masa Lay Zhang bersama EXO: Panas yang Hebat / Pertama kalinya aku diatas panggung Akhir dari Panas / Api Embun...

Daily Blogger Pro Review Competition

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.