Tampilkan postingan dengan label Learn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Learn. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2020

Tips Menghadapi Quarter Life Crisis di umur 1/4 Abad

Hari ini aku duduk di meja kerja ku, menunggu pendaftaran tempat les yang ku dirikan 2 tahun lalu. Tak sengaja membaca tulisan blogku setahun lalu. Setelah beberapa tahun lalu menghadapi banyak tantangan hidup menghadapi Quarter Life Crisis. Dari soal pekerjaan, tuntutan pernikahan, dan pertemanan bener-bener semua jadi satu sampai-sampai bener-bener kehilangan arah dan gak tau harus melakukan apa dan gimana caranya menghadapi apa yang harus kuhadapi. Serba salah dan nge-stuck. Alhamdulillah, tahun ini jauh lebih baik. Dari mulai gila baca buku-buku self-improvement (awal-awal hampir tiap bulan pasti beli buku hehe), menulis diary, dan melanjutkan meraih mimpi gilaku haha.

Then, TaaDaa I found myself again. Ke-bodo amat-an ku kembali lagi, yippie. Sekarang, jauh lebih tenang dan menikmati hidup dalam berproses setiap detiknya. Melakukan sesuatu sendiri jadi gak masalah buatku, melakukan sesuatu bersama teman-teman juga sama senangnya.

Disini bodo amat bukan berarti gak peduli atau cuek banget ya, lebih ke tau batasan hidup, dan tau mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak. Maksudnya? Akan kujabarkan di poin-poin bawah ini ya sekaligus memberikan tips-tips gimana sih caranya menghadapi Quarte Life Crisis

1) Turn Down Your Expectation

https://scontent-xsp1-2.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/53421339_1023429967849853_6730401215269568512_o.jpg?_nc_cat=107&_nc_sid=9267fe&_nc_ohc=TObDP_OhN-gAX9anCKM&_nc_ht=scontent-xsp1-2.xx&oh=b5ee855ffbceee179923888296bc0d7c&oe=5F2DDB8D
Source: link

"Life without expectation is safe and sound, you will be grateful what God give to you. Every single day feels like a surprise gift."
Turunkan ekspektasimu, serius yang membuat kita kecewa bukan karena kita ditolak kerja di perusahaan yang diidamkan, pasangan gak seromantis kayak di drama korea, atau temen gak memahami kita, tapi kita kecewa karena ekspektasi kita yang terlalu tinggi. Berharap apa yang kita bayangkan bisa terjadi di dunia nyata. Faktanya: seringnya sih gak sesuai ekspektasi, yang akhirnya kita lebih fokus kecewa ketimbang menghargai usaha diri kita sendiri atau orang lain.

Sadar gak sadar ini bisa menjadi racun gak cuma kamu doang yang kena tapi orang lain bisa kena dampaknya juga. Ingat, kamu juga manusia, orang lain juga sama-sama masih manusia. Pasti ada kalanya secara sengaja atau gak sengaja kita pernah membuat orang lain kecewa. Jadi maafkanlah dirimu yang membuat ekspektasi terlalu tinggi dan mereka yang pernah membuatmu kecewa. Hidup juga tidak selalu sesuai keinginanmu dan berputar di dirimu saja. Ada kalanya kamu harus menerima dan bersabar dengan kenyataannya.

2) People are Temporary

https://66.media.tumblr.com/7feeae33069257852476b4a7e2d8eb51/tumblr_pb6m5d2ncA1s02iuco1_1280.jpg
Source : Link

"People easy come and easy go, and this is normal. One thing you should know: don't depend on people but depend on yourself and God. So when people leave you, you still have yourself and God that always beside you."

Dulu pasti kita punya seseorang yang membuat kita merasa nyaman entah teman atau pacar (eaa) eh tapi sekarang boro-boro lah kalau diajak ngobrol nyambung dan jadinya malah gak nyaman, eh atau malah lost contact? Harapanmu saat itu adalah "semoga aku dan dia bisa ke pelaminan dan bahagia hingga akhir hayat." atau "semoga pertemanan ini langgeng sampai kita tua nanti."

Faktanya: tiba-tiba ditengah jalan putus, atau merasa dia udah beda tidak seperti yang duluuu uwooo wkwk. Kalau di pertemanan, tiba-tiba lost contact aja karena terlampau sibuk dengan kerjaanya atau jalan hidupnya yang diambil udah beda sama kamu.

Well, menurutku ini sih hal yang wajar. Hidup terus berlanjut, dan setiap insan di dunia ini terus berkembang dari waktu ke waktu. Dan yang paling pasti adalah hati manusia sangat mudah dibolak-balikan hatinya. Jadi wajar kalau hari ini merasa nyaman, eh tahun depan udah beda lagi ceritanya.

Merasa kehilangan pun juga normal dan wajar, tapi jangan sampai dirimu tersesat hanya karena ingin membuat orang lain tetap tinggal di hidupmu, sehingga kamu cenderung bergantung kepada mereka. Karena gak semua orang akan terus satu jalan sama kamu, relakanlah mereka pergi jika mereka memilih pergi. (Tsaahhh)

3) Understand What You Can and Can't Control

https://scontent-xsp1-2.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/56162070_2297705643620180_3911512035992535040_n.jpg?_nc_cat=104&_nc_sid=9267fe&_nc_ohc=x5lfxigFqDsAX9J5UPs&_nc_ht=scontent-xsp1-2.xx&oh=5093b12c487f18ecd0fe1468195ed3d6&oe=5F2FA1BE
Source: Link

 "By knowing what you CAN and CANNOT control, you can see the world differently."

Pahami apa saja yang bisa kamu kendalikan dan yang tidak bisa kamu kendalikan. Aku pun baru sadar setelah baca beberapa buku self-improvement. Semua akar dari insecurity, merasa tertinggal, takut gagal, takut gak sukses, takut gak nikah-nikah, dan segala macam bentuk kekhawatiran yang umum di masa Quarter Life Crisis, adalah karena kita selalu kepikiran dengan hal-hal yang gak bisa kita kendalikan. Contoh sesuatu yang TIDAK bisa kita kendalikan:
  • Virus Corona yang menular hampir ke seluruh penjuru dunia atau bencana alam yang diluar kendali dan kuasa kita
  • Sikap orang lain ke kita
  • Opini orang lain terhadap kita
  • Pilihan hidup orang lain
  • Menerima atau tidak nasehat yang kita berikan
  • Perasaan orang lain terhadap kita
  • Popularitas
  • Kesehatan
  • Kekayaan
  • Kondisi saat kita lahir seperti jenis kelamin, orang tua, keluarga, dll
Sedangkan, contoh sesuatu yang BISA kita kendalikan:
  • Opini atau persepsi kita
  • Keinginan kita
  • Tujuan kita
  • Pilihan hidup yang di ambil
  • Reaksi dan sikap kita
  • Usaha kita
  • Pikiran kita
  • Perasaan kita, dll
Misalnya nih, saat awal-awal virus corona pertama kali masuk ke Indonesia banyak sekali informasi dari sosial media. Sampai-sampai kita kewalahan menerima informasi dan buta mana berita yang hoax dan mana yang bener bener asli. Kita jadi overthinking, takut tertular virus satu ini. Padahal kalau terus dibawa pikiran, tidak baik untuk kekebalan tubuh kita. Kita gak bisa menyuruh media untuk stop berita virus Corona atau Corona-nya dilarang masuk ke Indonesia wkwk, tapi kita bisa melakukan apa yang bisa kita kendalikan dan lakukan seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan jaga jarak. Setidaknya ini menunjukkan usaha kita untuk mencegahnya, dan puasa sosial media jika diperlukan, agar gak terlalu overthinking. See? terlihat kan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak.

Contoh lain lagi, kita pasti pernah merasa tertinggal saat kita melihat teman-teman kita kelihatannya lebih sukses dan kaya daripada kita, udah lulus duluan daripada kita, udah menikah duluan daripada kita, atau udah punya anak duluan daripada kita, dan masih banyak lagii yang pada akhirnya kita lebih sering membandingkan hidup kita dengan orang lain ketimbang memperbaiki diri sendiri.

Dalem hati, "Kok hidup gue gini-gini aja ya?" Tenang bro and sis, lu gak sendiri dan ini wajar banget mengingat umur kita yang sudah berkepala 2 ini. Menurut pengamatan gue, kita ini udah terbiasa dari kecil secara gak sadar tertanam mindset umur 6 atau 7 tahun harus sudah masuk SD, umur 12-13 tahun sudah SMP, hingga kita kuliah. Semakin cepet lulus, semakin dipandang keren oleh orang-orang. Begitu juga saat mau menikah atau sukses, patokannya UMUR, semakin cepat semakin WOW dan semakin maju ke depan (macem kek motor H*nda hahaha). 

Realitanya: Apapun keputusan hidup yang kamu ambil punya resikonya masing-masing dan gak melulu cuma "agar aku bahagia, agar ortu bahagia, agar doi bahagia" Big NO NO NO. Kita sering tertipu dengan momen kebahagiaan orang lain di story orang-orang, dan membayangkan diri ini bisa bahagia kayak mereka. "Andai aku punya suami ganteng / istri cantik kayak dia pasti aku bahagia, Andai aku setajir dia pasti aku akan bahagia, Andai aku populer kayak dia pasti aku bla bla bla." Eh saking banyak mimpinya, lupa bangun dia wkwk. Kita jadi cenderung lebih siap menerima kebahagiaan yang semu ketimbang menerima resiko dan mempersiapkan diri untuk menghadapi resiko tersebut.

Misal nih ya, banyak cewek-cewek tuh tertipu dengan konsep pernikahan macem Cinderella yang endingnya "Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya" lalu tamat. Yee kali, menikah selalu bahagia selamanya wkwk halu. Orang yang menikah cenderung menutup masalah pernikahan mereka dan hanya menunjukkan ke-uwu-an dan keromantisan mereka berdua di sosmed. Tapi saat diamati di dunia nyata, ya gak selalu begitu pasti ada kesalahpahaman lah, perbedaan pendapat lah, ego yang masih tinggi lah dan itu jauh lebih ribet daripada resiko saat masih bujangan. Masalah sama pasangan belom selesai, eh masalah mertua mengikuti wayoloo. Ya kali, elu nikah cuma mau menyatukan elu sama pasangan doang, pastinya elu juga kudu menyatu sama keluarga besar doi juga.

Makannya, daripada meratapinya, mending bersyukur deh masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sendiri untuk bekal di masa depan nanti. Nah ini nih, salah satu yang bisa kita kendalikan, kita gak bisa nyuruh orang lain untuk STOP kegiatan mereka di storynya, atau kita gak bisa nyuruh society STOP nanyain "kapan lulus? kapan kerja? kapan nikah? kapan punya anak? Gak malu sama umur?". Itu semua benar-benar diluar kendali kita. Tapi kita bisa cari jalan keluarnya dengan cara membuat prinsip kehidupan kita sendiri, punya goals dan garis finishnya sendiri, tau apa saja yang sebenernya kita butuhkan, dan bagian diri kita yang mana yang bisa perbaiki. Terus tanya dirimu setiap kali membuat keputusan penting di dalam hidupmu itu.


Mudah ya kalau nulis ini wkwk, faktanya bener-bener harus sering dibanyakin latihan agar makin teguh pendiriannya dan gak gampang kebawa arus trend mindset-mindset yang menurutku kurang tepat dan bijak.

4) Let the Past Teach You a Lesson

https://i.pinimg.com/564x/c1/51/68/c151684842be59cd0be324b4a5e20d9f.jpg
Source : Link
"Whatever the past hurts you, it won't change anything EXCEPT you accept it and take the lesson from it, then move on and carry on your life."
Biarkanlah masa lalumu mengajarkanmu sebuah pelajaran, entah karena kesalahanmu atau kesalahan orang lain. Gak ada orang yang hidupnya selalu bahagia terus, gak ada. Pasti kita pernah disakiti atau menyakiti orang lain, pasti pernah. Saat kita disakiti orang lain rasanya ingin sekali balas dendam menyakiti orang itu juga, mengharapkan orang itu meminta maaf duluan, tapi giliran kita menyakiti orang lain, kita mengharapkan permintaan maaf kita diterima. Menyakiti dan disakiti benar-benar seperti lingkaran setan jika kita masih menaruh dendam ke orang lain dan jadi racun untuk diri sendiri jika tidak diselesaikan dengan baik-baik. Kebanyakan dari kita lebih senang melarikan diri karena itu jalan tercepat untuk menghindari konflik berkepanjangan, yang biasanya berujung dengan penyesalan atau dendam kesumat yang gak selesai-selesai.

Kalau artikel Psikologi yang pernah kubaca, maafkanlah dirimu dahulu dan maafkanlah mereka yang telah menyakitimu. Jika, hubunganmu dengan ortu, teman atau pasangan masih bisa diperbaiki, perbaikilah, Tapi jika tidak, cukup tau dan jaga sikap dan kendalikan reaksimu. Dendam hanya bikin kamu sakit bukan fisiknya tapi mentalnya yang lebih beresiko. Bermain cantiklah dengan fokus ke peningkatan value dan skill dirimu. Talk Less, Do More lah.

Ambil dan petik pelajarannya, buang rasa sakitnya pelan-pelan meskipun itu butuh waktu yang lama. Healing takes time and effort, so enjoy your process of healing. Saat kamu melihat masa lalumu nanti, kamu akan tersenyum bahwa kamu telah berhasil melewati masa masa sulit dan menyembuhkan luka dirimu sendiri tanpa harus menyakiti orang lain.

Semua tips ini berdasarkan pengalaman pribadi dan orang lain, solusinya kudapatkan dari membaca beberapa buku, diskusi dengan orang yang paham psikologi, dan artikel yang kubaca dari beberapa sumber. Aku sangat sangat menerima masukan atau koreksi dari tulisan ku ini yang masih jauh dari kata sempurna. Kalian bisa tulis komentar disini yaaa...

 Oh ya dua kalimat yang selalu aku ucapkan atau kutulis untuk diriku sendiri alias Self-Talk:
"Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku bisa menemani mu menghadapinya."
"Aku tidak tau masa depanku seperti apa, tapi aku tau apa yang harus aku lakukan hari ini. Meskipun belum tentu menjamin kesuksesan, bukankah lega bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat hari ini?"
Share:

Selasa, 04 Februari 2020

Pengalaman Pertama Ikut Tes IELTS

Source: Link
Yeay, 2020 I'm ready to take some risks in order to change! 😎
Setelah setahun perjuangan keluar dari kebimbangan ambil ujian IELTS atau enggak, akhirnya gue nekat juga haha. Gimana enggak bimbang ya, wong harga tesnya aja 2.9 juta wkwk. Duid sebanyak itu kan lumayan buat makan, shopping, beli buku dan masih banyak lagi. Memang yang namanya mengejar mimpi butuh pengorbanan waktu yang dihabiskan untuk belajar dan juga uang. Dan Alhamdulillah, gue berhasil melewatinya, dan ternyata enggak seserem seperti yang gue bayangkan alias SERU!

Gue kira soalnya super sulit, terus dikelilingi orang-orang yang prestasinya mentereng-tereng dimana-mana dan sibuk sama persiapan IELTS nya masing-masing. Eh pas hari-H, wow amazing. Pas ngerjain soal berasa lagi belajar (yaiyalah hampir setahun gak berhenti-berhenti latihan wkwk) terus ketemu orang-orang yang humble dan asyik disana, padahal mereka ini ada yang udah keterima beasiswa, ada yang mau kerja di luar negeri tapi enggak membuat mereka sombong, dan juga untuk melanjutkan kuliahnya di dalam atau di luar negeri. Beda lah sama suasana saat di tempat les IELTS he he he.

Hilih, malah curhat wkwk. Okay, kali ini gue mau ngasih gimana sih caranya daftar tes IELTS dan apa yang perlu dipersiapkan saat hari H. Jeng jeng jeng, check it out guyss!

1) Siapin Duid, Duid, Duid 
Source : Link
 Untuk Tes IELTS di tahun 2020 harganya 2.9 juta, sedangkan TOEFL iBT info yang pernah kubaca harganya 3.1 juta. Jadi guys, selain harus ngeluarin duid buat les persiapan IELTS/TOEFL, juga harus nyiapin duid buat tes. Kalo kayak gue yang eman-eman duid, persiapan alias belajar IELTS nya dikencengin sampai merasa cukuplah 6.5 atau 7 pas latihan. Tapi juga jangan lama-lama ya guys belajarnya, ntar keburu bosen dan males kayak gue yang sempet berhenti beberapa bulan karena mengikuti kelas beasiswa TESOL di salah satu daerah di Jakarta wkwk.

2) Buka Website IALF (Indonesia Australia Language Foundation)
Source: Link
Awalnya tau website ini ya dari rujukan tempat les gue dulu di LBI Salemba UI. Sempet baca-baca di websitenya dan menelfon mbaknya yang di Salemba, akhirnya gue buka tuh website resmi IALF (klik disini). Nah itu langsung kebuka di pendaftaran IELTS, dibaca baek-baek ya gaisss.

3) Apa bedanya IELTS computer-based dan IELTS paper-based test?
Source: Link
Dari namanya juga udah jelas yee, Kalo yang computer-based berarti ngerjain listening, writing, reading nya di komputer, kalo paper-based di kertas lah. Untuk Speaking, keduanya sama-sama face-to-face kok. Tapi keuntungan mengambil computer tuh hasil tesnya keluarnya cepet cuma 5-7 hari, kalau paper lebih lama sampai 13 hari. Terus yaa, kalau computer setiap hari Senin-Sabtu selalu tersedia tesnya, tapi kalau paper cuma tanggal-tanggal tertentu aja. Lu bisa cek jadwalnya yang computer-based test disini ya, sedangkan yang paper-based test klik disini. Oiya setiap kota jadwalnya beda-beda ya, dan di link yang gue kasih udah super lengkap banget jadwal dan lokasinya jadi langsung tancep gas yee.

Lalu gue pilih yang mana? Ohhh jelass, gue pilih paper-based test wkwk. Karena computer-based ini baru launching tahun 2019 yang lalu, dan gue belajar biasanya selalu pake kertas, yaudah pilih itu aja. Lagipula, lebih enak juga bisa nyoret-nyoret di kertas dan gak bikin mata sakit pas reading dan writing.

4) Apa yang dibutuhin untuk mendaftar tes IELTS?
Source: Link
Cuma KTP/Paspor yang masih berlaku ya, juga Kartu Kredit/Debit/Mobile Banking, dan hasil soft copy dari scan KTP/Paspor. Udah itu aja gak pake ribet wkwk. 

5) Isi Formulir pendaftaran tes IELTS
Source: Link
Setelah klik jenis tes IELTSnya, jadwal dan lokasi, tahapan selanjutnya mengisi formulir pendaftaran tes IELTS. Wah sayangnya kemaren, pas gue daftar gue lupa screenshoot. Intinya sih formulir itu harus diisi dalam waktu 30 menit. Banyak dah kolom yang harus diisi dari mulai nama lengkap, pekerjaan dan masih banyak lagi dah. Nah, ini gunanya soft copy KTP/Paspor, nanti diupload di formulir pendaftaran. Inget ya nama harus sesuai di KTP/Paspor, kalao enggak ya gagal ujian pas di hari H-nya.

6) Apa itu bayar Walk-In dan Online?
Source: Link
Nah, kalau you kejauhan melipir ke IALF, you bisa bayar online lewat m-banking atau via ATM juga bisa. Tapi kalo pengen mampir ke tempat IALF nya langsung sambil cuci mata lihat bule cakep, dan bayar cash disana itu disebut dengan pembayaran Walk-In. Yang bayarnya online via ATM disarankan untuk simpen bukti pembayarannya yaa, buat jaga-jaga aja hehe.

Setelah semuanya beres, tinggal menunggu waktu ujian IELTS. Oh iya, kalian bisa booking jadwal IELTS sebulan sebelum hari H ya (khususnya Paper-based), karena kemarin pas gue ikut ujian, gilak ada sekitar 30-40 orang.

Setelah dag dig dug menunggu sebulan, akhirnya hari dimana ujian IELTS pun tiba. Mana itu pagi-pagi hujan deres banget, badan gak mau dikasih makan kalo pagi-pagi alias eneg, yasudah dengan segala kenekatan, gue cabut langsung ke IALF Kuningan naik motor haha. Jadi apa yang gue perlu dibawa di hari H?

1) KTP/Paspor
Ini wajib, wajib banget dibawa jangan sampe kelupaan. Kalo lupa auto gagal ujian karena gak dibolehin masuk ke kantornya.

2) Botol minum yang transparan.
Karena pas Listening, Reading, dan Writing selama 3 jam penuh gak keluar ruangan, disarankan membawa air minum ya. Lumayan juga biar gak keliatan nervous amat haha.

Udah itu aja. Loh kok gak bawa alat tulis? Udah disediain sama pihak IALF-nya. Disana dari awal masuk kantornya aja udah super ketat banget, harus ngantri terus dicek KTP/Paspornya wajah kita sama ga di aslinya. Bahkan tanda tangan kita pun di cek, sama atau kagak. HP harus dinonaktifkan dan ditunjukkan ke petugasnya. Yaelah ribed wkwk. Jam tangan, gelang juga kudu dimasukin ke dalem tas, lalu dititpin ke penitipan barang. Jadi cuma bawa ktp/paspor sama air minum. Setelah dititipin ya, wajah di cek lagi sama atau kagak, baru dah dipoto. Dalem hati, suudzan banget dah di cek-cek mulu wkwk. Next, abis dipoto nunggu semua peserta kelar dipoto. Baru dah masuk kedalam ruangan ujiannya. Urutan duduk sesuai nama abjad dari A-Z. Diatas meja udah ada 2 pensil dan 1 penghapus. Kebetulan gue dapet tempat duduk paling belakang, hilih percuma juga kagak kenal siapa samping dan depan gue. Dibelakang juga ada petugas yang jaga.

Selama Listening, Reading, dan Writing yeah gue laluin kayak pas lagi belajar. Bermain dengan waktu, kecepatan dan juga ketelitian. Karena udah biasa latihan pakai waktu, enggak begitu kaget justru malah seru dan menikmatinya, Alhamdulillah. Tapi soal nilai, pasrah aja dah gue wkwk. Bisa ngerjain aja udah seneng wkwk.

Yeap, kelar dah tuh ketiga skills, ternyata jadwal speaking gue jam 16.55 dan itu udah tertulis di meja ujian & board disana. Gila, gue yang udah kelar jam 12 siang, kudu nungguin 4-5 jam. Nyebelin banget dapet jadwal paling akhir. Gue pengen cepet cepet selesai juga. Yaudah, sambil nunggu gue makan siang di salah satu Cafe. Apes, gara-gara tergiur promo paket murah di depan tokonya, ternyata paket murahnya udah abis, adanya makanan yang kaga murah haha. Karena ada mbak-mbak yang ngajak gue duduk bareng disitu, yasudah mau enggak mau harus bayar lebih.

Sambil makan, kita kenalan dan juga sama mas-masnya yg mesen makanan duluan. Ngobrol-ngobrol soal beasiswa, rencana studi di Luar Negeri, target skor IELTS dan masih banyak lagi. Gue kira target mereka tinggi diatas 7 yee. Enggak taunya mereka bilang dapet 6.5 udah cukuplah ngapain tinggi-tinggi wkwk. Bener-bener kebalik sama ekspektasi gue dah. Setelah selesai makan, kita bertiga kembali ke ruangan ujian itu sambil menunggu dipanggil. Rasanya waktu berjalan sangat lambat walaupun kita saling ngobrol membunuh nervous dan kejenuhan.

Karena jadwal speaking gue paling akhir, alhasil mereka duluan lah yang dipanggil. Huft, yasudah gue main game aja biar lupa sama nervousnya. Tapi emang dasar guenya kagak bisa diem, keluar-masuk ruangan ujian. Sampe-sampe gue akhirnya duduk manis karena gue nemu teman senasib yang dapet speaking test paling akhir. Lagi, gue berkenalan dengan mereka yang sama-sama berjuang. Mereka humble dan ada yang share pengalamannya tes masuk salah satu universitas di Amerika. Gak pernah nyangka aja sih gue, walaupun dia udh dapet beasiswa LPDP, ternyata tidak mencakup ujian tes masuk disana. Lagi-lagi harus berkorban duit lagi. Ada juga yang butuh IELTS buat ngelamar pekerjaan di Australia. Gue penasaran dong, gimana caranya kerja di Luar Negeri. Usut punya usut ternyata ngelamar via LinkedIn. Whaaa, pengen tapi.... wkwk.

Finally, it's my turn to speak English in Speaking Test. Paling pasrah kalo ini mah, gue jarang belajar kalo yang ini dan gak begitu pede jadinya haha. Yaudahlah yaaa, yang penting udah dilewatin hehe.

Ini sebenernya bikin gue sadar, masih banyak pengalaman-pengalaman seru yang perlu gue coba. Bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai kalangan yang senasib dan juga sama-sama berjuang meraih mimpi. Next time, maybe I should find a wider relations. Yhaa siapa tau ya, bisa melahirkan ide atau berkolaborasi. Who knows that my life story would be interesting?
Share:

Rabu, 20 Maret 2019

My Journey: My First Day Attending TESOL Training at JLA

Haiiii apakabar? Heheheheheh. Kali ini aku mau cerita pengalamanku mendapatkan beasiswa TESOL (Teaching English to Speakers of Other Language) Training dari JLA (Jakarta Language Academy). Enggak nyangka kan? Aku juga enggak nyangka hehe. Setelah menemui banyak penolakan sana-sini entah itu dari lamaran kerja, volunteer dan masih banyak lagi akhirnya ada salah satu yang nyangkut alias keterima jadi penerima salah satu beasiswa full class seharga 16 juta Rupiah. Wow, mungkin bagi orang yang kebanyakan duit itu enggak seberapa. Tapi, bagiku ini adalah suatu pengalaman yang berharga dan membanggakan, plus saya suka yang gratis heheheh. Aku dapet info ini dari grup WA kampus dan seperti biasa awalnya aku ragu mau ikut atau enggak. Setelah dipikir-pikir yaudahlah iseng dicoba aja, soal keterima apa kaga urusan belakangan. Saat itu aku mendaftar beasiswanya via online. Lumayan banyak data yang harus diisi, aku sampe 3 kali isi ulang data karena nge-stuck di pertanyaan-pertanyaan terakhir. Yang aku ingat pertanyaan-pertanyaan itu seputar pengajaran dan opiniku soal itu, dan aku butuh beberapa hari memastikan jawabanku terkonsep dan minim dari kesalahan kata dan grammar. Fiyuh, aku sampe nyuri-nyuri waktu saat ngajar karena kalau dirumah terganggu dengan hp dan internet. Setelah submit, aku menunggu hasilnya keterima apa enggak dan menunggunya itu lumayan lama. Aku daftar tahun kemarin dan akhirnya dinyatakan keterima di awal tahun ini. Aku aja sampe lupa loh sama beasiswa ini wkwk.

Image result for Jakarta Language Academy
Source: https://www.jakartalanguageacademy.com/
Pasti ada yang nanya apasih itu JLA? Oke, JLA adalah lembaga yang menyediakan program pemberdayaan guru, salah satu programnya adalah TESOL. Terus TESOL itu apa? apa yang pertama kali terfikirkan dibenakmu? Kalau aku, pertama kali lihat tulisan TESOL mengira sama artinya dengan TESL (Teaching English as Second Language) atau TEFL (Teaching English as Foreign language). Dan boom! Ternyata mereka semua berbeda bung. Kalau TESOL adalah pengajaran bahasa inggris untuk orang-orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris. Kalau TESL adalah pengajaran bahasa Inggris kepada orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai percakapan sehari-hari. Contohnya seperti negara Singapura dan India. Sedangkan TEFL adalah pengajaran bahasa Inggris untuk orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris hanya untuk suatu kepentingan seperti travelling ke luar negeri, melamar pekerjaan dan masih banyak lagi. Contoh negaranya adalah Indonesia. Ada lagi nih yang namanya TEAL (Teaching English as Additional Language) yang artinya pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa tambahan. Maksudnya adalah bahasa Inggris disini bukan sebagai bahasa kedua lagi, tapi bisa sebagai bahasa ketiga atau keempat dan seterusnya. Contohnya adalah seseorang dari Indonesia khususnya orang Jawa, biasanya bisa bahasa Indonesia dan Jawa lalu dia juga fasih berbahasa Inggris maka disini bahasa Inggris menempati urutan ketiga. 

Kebetulan aku pernah belajar TEFL di kampus. Ingatan-ingatan di kampus berusaha kuingat namun yang tersisa hanyalah nama buku yang direkomendasikan oleh dosen favoritku dulu: Jeremy Harmer. Dan benar saja, guru yang mengajar training ini menggunakan buku itu. Ngomongin soal guru, ternyata aku pernah bertemu guru ini di kampusku. Saat itu, dia masuk ke ruangan dosen ngomong pakai bahasa Inggris, tapi pas aku duduk di ruang tunggu di tempat training, fasih bener ngomong bahasa Indonesia ke karyawan lain. Eh ternyata guru yang bernama Karl Milsom ini sudah 10 tahun tinggal di Indonesia. Dia asalnya dari United Kingdom. Bener-bener masih kelihatan muda tapi ternyata sudah punya anak perempuan satu. Enggak bisa bayangin itu anaknya secakep apa, bapaknya aja hidungnya mancung, kulitnya putih namun ada rona merah di pipinya, iris matanya agak abu-abu dan rambutnya enggak hitam entah warna apa susah dijelaskan. Mr. Karl sejauh ini menurutku tipe orangnya serius (dia ngaku sendiri wkwk), berfikir terbuka, suka menerima pendapat siswanya, perhatian kalau ada siswanya enggak paham atau membantu menjabarkan apa yang siswa maksud.  Hmm,dia bisa juga sih diajak bercanda kalau diluar jam ngajar. Terakhir kali aku iseng ngasih dia tantangan bahasa gaul dari Indonesia yang dia tau, respond dia senyum senyum aja dan menerima tantangan itu haha. Dari dua kata bahasa gaul, satu dia bisa jawab dan satu enggak. Nanti, bahasa gaul yang belum terjawab akan kutagih lagi minggu depan he he he (maafkan muridmu ini ya Sir).

Aku dapet ide itu gara-gara John, teman sekelasku dari Texas USA, ngomong kalau Mr. Karl fasih ngomong bahasa Indonesia. Trus aku tanya ke John, Mr. Karl bisa 'bahasa gaul' enggak. Dia bingung bahasa gaul itu apa, malah ngikutin aku ngomong 'bahasa gaul?' Lucu banget deh. Trus aku bilang bahasa gaul itu bahasa informal yang biasanya digunakan untuk ke teman. Dia ngangguk-ngangguk senang bisa dapet kosakata bahasa Indonesia baru. Pas aku tanya dia bisa bahasa Indonesia enggak, dia jawab "Dikit". Aku tuh enggak nyangka dia friendly banget dan gampang berbaur di kelas. Padahal dikelas aku tuh diem loh kecuali pas kelas berlangsung. You know, dari 8 orang cuma aku yang pake kerudung dan hanya 2 orang dari Indonesia. Sisanya ada yang dari Afrika Selatan, India, Singapura, USA dan masih banyak lagi. First day in the class, I feel I wanna run out from this class. It feels like why am I here? What kind of the world is this? What if they don't wanna be a friend to me? What if bla bla bla. Then, thanks to Mr. Karl who makes this class enjoyable and there's no gap between who is the smartest or kind of like that. Semua murid berbaur memberikan ide dan pendapat, dan semua dihargai sama oleh Mr. Karl. Kembali lagi ke John, ternyata dia anak magang di Indonesia dan baru berada disini sekitar 3 bulan. Sebelumnya dia pernah magang di Kamboja beberapa bulan juga. Pas aku tanya impression dia soal Indonesia, dia senyum sumringah banget sambil ngomongin orang-orang Indonesia dan juga makanannya. Bahagia gitu, aku cuma senyum nahan ketawa.

Terus, temen-temen dari Indonesia, Afrika Selatan dan Singapura ikutan nimbrung. Temenku yang dari Afrika Selatan ini (serius, aku belum tau namanya tapi dia ramah banget) nyeritain keluarganya yang super sekali. Semua negara nyampur jadi satu. Biasanya kan orang Afrika Selatan kan kulitnya hitam,tapi dia beda. Wajahnya kayak Arab tapi ada (freckles) bintik-bintik hitam khas orang Eropa. Badannya agak berisi dan gaya pakaiannya kayak muslim Eropa. Eh, ternyata ayahnya berasal dari Arab dan ibunya berasal dari Irish. Dia cerita kalo beberapa kata bahasa Indonesia ada yang mirip sama bahasa Afrika. Ternyata, peradaban Islam di Indonesia menyebar ke Afrika dan salah satu pelopornya adalah Syekh Yusuf dari Makassar Indonesia. Wah, aku enggak nyangka loh, merasa bangga jadi orang Indonesia hehe. Kita berlima pun seru ngobrolin tentang Indonesia. Oiya, karena beberapa temanku enggak bisa bahasa Indonesia, mereka bingung ngomongnya gimana karena ibu penjualnya engak bisa ngomong bahasa Inggris. Jadi, aku bantuin mereka saat jajan di kantin dan gak nyangka John mentraktir jajanku yang cuma 2000 perak karena aku enggak punya uang kecil. It feels like wow, we're trying to make friendship works although we're different.

Perasaanku disana punya temen-temen real life dari berbagai macem kultur dan budaya sih seneng dapet pengalaman baru, belajar saling menghormati satu sama lain dan masih banyak lagi. Tapi, yang perlu digaris bawahi dan diingat untukku disini adalah aku harus mempertahankan nilai-nilai budaya yang ditanamkan di diri aku sejak kecil. Contohnya, kuakui beberapa dari temanku itu suka minum bir, ngerokok dan pesta. Yang menurut aku ini enggak cocok dengan aku. Soalnya ada beberapa dari mereka ada yang ngerokok. Aku dari dulu memang anti rokok dan gak bisa tahan lama sama asap rokok. Aku gak suka ketika bajuku bau asap rokok padahal aku enggak ngerokok. Jadi, aku mempunyai batasan-batasan tententu dalam bergaul dengan teman lainnya. Aku akan menjadi diri aku sendiri, berteman dengan orang-orang luar bukan berarti aku harus mengikuti gaya mereka untuk mendapatkan pengakuan. Tetapi lebih tepatnya menunjukkan ini loh salah satu orang Indonesia yang ramah dan tau sopan santun ke sesama. Jika kalian menghargai nilai-nilai budaya Indonesia, aku akan menghargai budaya kalian, begitu....

Aku bersyukur dan berterimakasih telah diberi kesempatan mengenyam TESOL Training disini selama 3 bulan lebih. Nanti saat lulus, kami akan diberikan sertifikat CELTA (Ceritificate in Teaching English to Speaker of the Other Language) yang hanya bisa digunakan di Indonesia saja. Aku berharap selain ilmu yang bisa didapat disini, bisa juga membangun relasi dan juga bisa membuka jalan menuju mimpi besarku. Aamiin. Yapp, mungkin sekian dari ceritaku. See you di cerita selanjutnya yaaa....

Btw, sorry enggak ada foto karena trainingnya masih baru hehe. Masih berusaha membaur dengan yang lain juga.
Share:

Senin, 04 Februari 2019

My airlines 23

Aku masih ingat perjalananku untuk pertama kalinya setelah sekian lama enggak naik pesawat. Sebelum berangkat pun, gerimis menemani. Tapi aku tetap berangkat karena tiket pulang-pergi sudah di beli dan pantang banget mundur. Saat itu perasaan senang dan gelisah campur aduk jadi satu. Senang, akhirnya bisa naik pesawat lagi. Gelisah karena kita enggak tau ajal kapan datang. Setelah aku mendapatkan nomer kursi untuk duduk, aku terus berdoa agar diberi keselamatan hingga di tempat tujuan. Hingga pesawatpun lepas landas, Tak menyangka, ternyata naik pesawat tidak semenyenangkan seperti dahulu saat aku masih kecil. Terlalu banyak turbulence (goncangan) dan aku hanya bisa melihat warna awan abu-abu dari jendela pesawat. Frustasi, aku hanya bisa berdoa dan terus mengucapkan Asmaul Husna. Ingin sekali aku cepat-cepat menapaki bumi dan sampai di tempat tujuan.
Terbang saat di cuaca sangat mendung (Source: Pribadi)
Begitulah yang sedang aku rasakan sekarang. Terlalu banyak guncangan. Saat aku mencoba mencari secercah harapan, hanya warna abu-abu yang kutemukan. Kosong. Ingin sekali aku mundur dari penerbangan hidup ini, tapi aku tidak akan bisa. Sama halnya seperti tiket yang sudah dibeli. Aku enggak bisa mundur gitu aja. Saat aku memaksakan diriku untuk terus melangkah, awan semakin tebal, menganggu jalan pesawatku sehingga terjadi guncangan. Terkadang, sempat terpikirkan olehku saat berada di dalam pesawat, "Mungkinkah sudah saatnya?" Namun, aku terus berharap yang baik-baik.

Pesawat hidup yang kutumpangi memang sepertinya sudah usang dan rusak alias tidak layak jalan karena terlalu sering terbang dalam keadaan cuaca buruk. Orang-orang pasti akan bilang 'kenapa tidak diperbaiki saja?'. Namun bagaimana? Memang benar, menasehati orang lain itu lebih gampang, ketimbang menasehati diri sendiri. Mudah bagiku untuk menuliskan kata-kata bijak, mudah bagiku untuk memberikan kata-kata semangat untuk orang lain, tapi tidak pernah mudah bagiku untuk bangun dan menegakkan diri ini.

Atau orang-orang itu memberi saran lain seperti 'terbanglah saat cuaca cerah'. Andai saja aku bisa memilih cuaca layaknya main game The Sims. Bayangkan, disaat penumpang sudah bayar mahal-mahal tiket pesawat, lalu di delay beberapa jam atau di cancel, bagaimana perasaannya? Jengkel pasti dan sudah kapok tidak mau memilih penerbangan itu lagi. Begitu juga dengan pesawatku ini, harus tetap terbang bagaimanapun caranya.

Pesawat ini semakin ringkih karena bertambahnya usia. Sudah 23 tahun pesawat ini terus terbang dari satu tempat ke tempat lain. Dan penerbangan terburuk yang pernah kurasakan adalah penerbangan saat pesawat menginjak 20-an tahun. Berbagai macam cuaca buruk aku lewati satu persatu dan butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Aku tau pesawat ini memang sejak dibuat hingga berumur 20 tidak pernah latihan untuk terbang, selalu disimpan baik dan rapi di tempat penyimpanan pesawat dengan fasilitas yang WAH. Beberapa orang akan melihat pesawat ini seperti pesawat mahal, padahal kenyataannya pesawat ini payah dalam urusan terbang saat di cuaca buruk. Butuh bertahun-tahun untuk memperbaikinya. Karena terlalu sibuk memperbaiki, untuk meng-upgrade pesawat pun tak pernah ada waktu.

Karena jarang ada yang memberikan perawatan, pesawat ini hanya bergantung pada diri ini sendiri dan beberapa bantuan orang disekitar. Lelah? Ya, sangat melelahkan dan rasanya ingin berhenti terbang. Lagi, aku tak punya pilihan. Bagaikan pesawat yang sudah terjadwal, mau enggak mau harus tetap terbang. 

Penerbangan berikutnya yang berakhir dengan indahnya wajah bumi dari atas (Source: Pribadi)
 Pepatah mengatakan setelah badai muncul lah pelangi. Misalnya, dibalik awan putih pekat itu, terdapat wajah bumi yang cantik yang sayang untuk dilewatkan. Dari dalam pesawat, aku bisa melihat anak sungai mengalir dari bukit tertinggi melewati hutan yang rindang lalu berakhir di ujung pantai. Atau cahaya-cahaya lampu yang tersusun rapi yang menyala saat di malam hari. Semuanya terlihat menakjubkan. 

Aku tersadar, memang awan tebal dan keindahan wajah bumi ini tidak ada yang abadi. Semuanya saling melengkapi untuk bisa dipetik hikmahnya. Namun, yang kuheran mengapa penumpang di dalam pesawat itu lebih sering membicarakan guncangan di pesawat, ketimbang panorama indah dari pesawat?

Pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan yang ku tuju kan untuk diriku sendiri. Aku juga tidak mengerti dan jawaban yang relavan saat ini adalah karena sudah sifat manusia lebih peka terhadap kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan daripada yang menyenangkan.

Pesawat ini jauh dari kata sempurna, masih harus banyak melewati trial and error-nya. Tetapi, aku masih berharap pesawat ini terus menguat untuk menghadapi cuaca yang lebih buruk lagi, hingga akhirnya bisa melesat terbang tinggi jauh disana. Hidupku belum selesai sampai disini, masih banyak tempat yang ingin aku kunjungi agar aku bisa lebih mengetahui diriku sendiri dan juga lebih bersyukur apa yang sudah aku punya. 

Pesawat terbangku, mungkin sayapmu terlihat retak tapi lihat kamu tidak sendirian. Masih banyak pesawat lain yang harus lebih berjuang terbang mati-matian karena sayapnya yang patah. Janganlah takut dengan awan tebal itu, karena saat kau melewatinya kau akan melihat sisi dunia yang tidak akan pernah kau lupakan. Hingga tiba saatnya suatu hari nanti penerbanganmu berakhir dan kau tersenyum bangga karena setidaknya kau berani melewati semuanya bahkan saat cuaca buruk sekalipun. Aku akan terus berdoa, sama seperti halnya saat aku ketakutan naik pesawat dengan hamparan awan berwarna abu-abu yang pekat.

Dear my airlines 23, I know you're strong enough. If not, you will never overcome many bad weathers since the beginning. I'm proud of you. Don't give up easily at least you've tried. Don't always procrastinate what you have to do. I know it sounds easy but hard to do, but I know you can do everything you want. Cheers!
Share:

Jumat, 31 Agustus 2018

Dear Someone that always Inspires Me~

I just read my favorite book. The book that changed me into a better person. I once show off to my teacher and my online friends since it inspires me so much. It might a little bit weird for you who is not familiar to read book. However, thanks for this book who gives me different perspective about life and love. The book called Independent 24.
https://www.whoa.in/20150417-Whoa/Girl-Create-Hand-Shape-Heart-Gesture-HD-Wallpaper.jpg
Source: link
"The teachers refused continue teaching him because he doesn't follow the standard of learning. If I were him, I would not respect the teachers at all. However, he said differently."
I still remember when the first I read the book. It was when I'm quite depressed about thesis of my bachelor degree. That day, I underestimated me whether I can do it or not. It's terrifying, really. Facing fierce lecturer to accept my thesis almost everyday, I lost my nerve. I almost gave up. Then, I read one chapter that explains about a student and two teachers. The teachers refused continue teaching him because he doesn't follow the standard of learning. If I were him, I would not respect the teachers at all. However, he said differently. He kept respect the teachers and showed that it's not student's fault or teachers' but it just different methods to learn. There's no right or wrong in learning as long as we have same purpose as an achievement. That day, I gained confidence as much as I can. I don't care how many times I got rejection from my lecturer but I'm sure the lecturer will accept my efforts as long as I showed him strong determination to graduate soon. Then, I'd been accepted after one month striving hard to get lecture's approval. I was so grateful that day, my hardwork was paid off.
"By his writing, I can feel how terrible his life was just to pursue his dreams and wanted to make his parents proud."
You think it's ending? No, it's only beginning. I had to extend one semester more because one of my supervisor is perfectionist and the progression of my thesis became late. I felt so sorry that day to my parents, I felt I wasted their money so much. So, I took the rest of my money that I got from my scholarship to help my parents paid my college's tuition fee. That day I felt so stupid and useless. Thanks to my mom who always listened my problems and gave me some solutions. Whenever I felt down, I always read my favorite book. That day, I opened a chapter that told me about his trainee life. By his writing, I can feel how terrible his life was just to pursue his dreams and wanted to make his parents proud. Living in different countries and far away from home, always press himself to practice practice and practice more until he got injuries, and his strong willingness to achieve his goals. It's a long long story that it's hard to describe in this blog. The most important thing I've got was never give up! With a great effort I collected my courage to face that perfectionist lecture. I stayed in library longer just searching a suitable book or journals, kept in touch to my college friends to exchange knowledge, and don't forget to hang out with my bestfriend and family (It really helped me to relieve my insecurities). Since I have much time, I'm bored so I decided to take a part-time job. At first, my mom didn't agree to my decision, but I took it anyway so I could feel more valuable to the others while I'm dealing with my own thesis. That day, I'm blessed being a teacher even until now~
https://thumb.guucdn.net/640x360/images.guucdn.net/full/2016/6/20/ac3203f61f5a2e121ead415d9284e7054decce6f.jpg
Source: link
"I thought  the happiness would stay longer but the fact not."
Did I get my bachelor degree? Yeapp I did it! That time, I'm very proud I could see my parents' smiles. Also my bestfriends! All my bestfriends were home and celebrated my graduation. Woww, it's so cool. Next time, my turn to make you happy my girls (Never hesitate to contact me if the day comes). I thought  the happiness would stay longer but the fact not. I've got depression again when my dad really insisted me to be a teacher in school, but I didn't want to because I'm gonna achieve my crazy dream first. I thought I would get support from my big family, but they asked me to give up and just marry someone. Getting many rejection from job that I really want made me frustrated. Again, I've got my mom by my side and also many new online friends around Indonesia and some around the world since I joined volunteer and kept learning new language. Since then, I felt there were many people still needed me and also my students that I've been taught! I even established my own English course. Thanks for my mom who always supports me. Love you~
"He explained that it's easy to like someone but it's not easy to make commitment to one person. Saying "I love you" means you have responsibility to the girl."
Time passed by, I almost forgot my feeling in real life. Having someone special in my life? Nahh. My parents wants me to look for someone by myself but I have no intention to get engaged to someone. I felt I was bad at relationship! Lmao! Whenever I like somebody, it always gives me pain rather than happiness. Until I realize, I have soft-hearted made of glass, people who I let in my life have important role to me such as family, bestfriends and also my crushes. The bad side of this heart is when I like someone I'd never let him know but when he's with his choice, it made me more depressed and I'll easily ill. Now I'm strong enough since I read Independent 24 again. That book magically can heal me. He explained that it's easy to like someone but it's not easy to make commitment to one person. Saying "I love you" means you have responsibility to the girl. Since then, I think to have interest in someone is wasting my time and it's not good for my health. I'll only give my everything to Mr.Right. The one who takes the responsibility from my parents eye to eye. Then striving hard together and facing up and down life. That's it! That's love! Just skip playing drama, ain't have time and not cool!

You might wondering who the writer of this book is. The writer maybe a little bit strange for you, his name is 张艺兴 a.k.a Lay. He's one of the reason I'm getting strong only reading his book. Thank you for your motivation! And this is my massage for him

张艺兴宝贝
你好艺兴哥哥! 希望你快乐 照顾你的身体
今天我开心 知道你之后我有多新朋友
我想对你说 感谢你的一切 表演 歌手 跳舞 冬季 个性
喜欢你的一切 艺兴哥哥牛掰 牛掰
我们一起走~ 当你的粉丝是我的世界最幸福的事
永远支持你! 期待你的三胎!
兴兴 加油! 努力努力再努力!

你的贝壳
P.S: 对不起 我会写一点中文
2018年8月31日

Uhm, sorry. No translation for now.
Share:

Minggu, 12 Agustus 2018

The Beginning of My Journey at LBI UI

Hello guys, it's been a long time I haven't write something. As usual, after I graduated I'm dealing to work and practicing IELTS (International English Language Testing System). Since I was lazy sometimes and there's no friend I can talk to, I decided to take IELTS course at LBI UI Salemba. Thanks to my bestfriend who recommended this place, I'm grateful can meet amazing teachers who also UI lecturers and new friends. In this blog, I want to share my experience and opinion about this amazing place to study. just check it out, guys!
https://ieltscanadatest.com/wp-content/uploads/2017/02/GettyImages-476520116-are-you-ready-675x-1.png
Souce: Link


1. First test IELTS

This test measured your score in IELTS and that score will used whether you're in IELTS 1,2, or 3. The low score will be in IELTS 1, and vice versa. The test divided to only Reading and Writing. When I did the test, I felt confident because it's easier than my IELTS practice. I did it on time (which is rare to me lol) because the topic is familiar to me and the vocabularies were easily understood. Next a few weeks, I was told that I got IELTS 3. Oh wow, at first I thought there's something wrong in evaluating my score, but the committee said that my writing is good and my reading score was 6.5. That day I was happy and also afraid. The highest class which means two swords for me. The good thing was my hard work was paid off, but the bad thing was I'd meet many smart people who like competing each other.

2. Entry test IELTS
That was my first time I went to the class. There were around 20 people joined the class. I could feel the pressure of this class. Moreover, there was entry test which determined how many scores you get in the first class. Everyone was busy with their worlds and so was I. I was frustrated with this test (reading, listening, writing, and speaking) because it's more difficult than I expected, especially the listening *sigh*.  That's okay, it's only beginning. I could make it up next test.


3. Meeting fabulous teachers
The result of my test was shameful and it's not shocking tho. That's why I came there: to learn how to get 7 in IELTS. The class is quiet because we didn't know each other. Thanks god, I already knew one after we did Entry test. There were two teachers: one taught us speaking and listening, and the other was reading and writing. My first impression when I met the teachers were how generous they were. They listened to us well, gave some information and recommendations about scholarships and international universities. They treated us equal (fyi: there's only me who wears veil in the class that day). It was my first time having a different atmosphere in the class. Time passed by, I knew that they were UI lectures and graduated from University of Glasgow and University in the US, plus they got it from LPDP (Indonesian Scholarship). I was delighted everytime they talked about their experiences in the UK and US. The most important thing was they encouraged us and never looked down to us. I felt the students were treated equal whether they're smart or not.


4. Generous friends
This class really had amazing people with a great occupation. It needs 2 months or so to make us blend each other. However, I already got some new close friends and we like helping each other. Later I knew that there were one friend who is not only genius but also generous. It's rare to meet people like that in these days. He gave us his knowledge about IELTS. He never hesitated to help our struggle whenever we asked. Wow, he's so mature. After we had chit chat, I knew that he had already scholarship and next year he's gonna study at Japan. (Again, wow!) I was so inspired by him.


5. Mid-test and Final test
In the mid-test, my score improved. Thanks to the teachers and friends who helped me. Although, I still need more practice, it gave me motivation. For final test, it will be held on next Saturday. I hope the score won't make me disappointed.


After I did final test, I will get certificate. Of course, it's different from IELTS test. If you wanna join the IELTS test, you can visit LBI UI to further information. For you who wanna join the class, you have to pay 1.700.000 rupiah. Since, Salemba UI is far away from my house, I took the class only Saturday in the morning until afternoon. Some people told me why I took English course again meanwhile I already graduated. I replied I wanted to fight what I wanna reach. Whether I get it or not, at least I strive. If you need further information, you can click this. Happy learning!
Share:

Rabu, 21 Februari 2018

Kesempatan Demo Teaching di English First

Pengalamanku kali ini sangatlah berkesan karena kesampaian juga bisa lihat proses anak-anak belajar di English First. Aku bisa melihat sistem mereka yang dapat membuat anak-anak umur 6-8 tahun bisa berbicara full English. Wah benar-benar keren! Sistem belajar di English First sama dengan sepemikiran aku, dimana anak-anak diajak mendengar terlebih dahulu lalu mereka mengikuti ucapan yang mereka dengar (speaking), setelah itu baru deh diikuti dengan writing dan reading. Lumayan, bisa jadi referensi kalau ingin membuat tempat les sendiri nanti.

Source: link
 Materinya masih terbilang mudah, kebetulan mereka sedang belajar pets (animal). Disitu, mereka enggak cuma belajar itu aja, mereka juga diberi video cerita tentang bahasa inggris tanpa subtitle. Lalu dari video tersebut mereka diberi latihan soal pertanyaan yang mudah. Tentu saja guru juga membantu menjelaskan cerita tersebut dengan bahasa inggris. Setelah itu mereka diajari adjective atau mendeskripsikan hewan peliharaannya itu seperti smart, silly, fluffy dan masih banyak lagi dengan metode mime (atau memberikan gaya di setiap adjective). Next, ternyata enggak cuma teori aja loh yang diajarkan tetapi Phonics (pengucapan) juga. Ya ampun, seumur-umur aku hidup, aku baru tau phonics saat kuliah wkwk. Anak-anak ini sungguh beruntung bisa membiayai les sebagus ini. Phonics yang diajarkan disini adalah soft C dan hard C, seperti mice /mais/ dan cat /kaet/ lalu diulangi terus menerus atau biasa disebut drilling. Sebenarnya aa satu materi lagi yaitu grammar: expressing like and dislike. Tapi karna kehabisan waktu, materi itu dilanjutkan ke pertemuan berikutnya.

Dari awal kelas dimulai hingga selesai, interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan siswa full bahasa inggris. Enggak ada satu kata patahpun bahasa Indonesia yang keluar. Bagusnya, anak-anak sangat antusias, enjoy dan fokus saat belajar karena diselingi dengan games yang melatih kinestetik anak. Uh, aku masih ingat ada salah satu anak yang selalu menjatuhkan kotak pensilnya berkali-kali di depanku. Refleks aku bilang "jatuh lagi" aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku haha. Malu banget ngomong bahasa ibu sendiri, untung anak-nya ga ngeh dan gurunya juga wkwk. Syukurlah hahaha.

Setelah aku menulis poin poin penting ketika proses pembelajaran berlangsung, aku kembali lagi ke English First untuk melakukan Demo Teaching. Tentu saja, aku harus menyiapkan lesson plan, handout dan keperluan mengajar lainnya. Cukup buat aku mual di pagi hari karena this is for the first time. So, I carried on what I could do until I forgot what I was worried about. Let me tell you what I've got here when I was on demo training. There are 6 teachers, and one of them is an old foreigner (Oh my god, I was quite nervous, he must be already mastered English). Dan ke enam guru itu berakting seolah-olah anak 6 tahun sampai 9 tahun. Ada yang berakting sombong, ada juga yang berakting anak yang kurang motivasi dan juga makan dan minum seenaknya. Untung aja aku udah biasa nemu siswa kayak gitu (bahkan nemu ada yang lebih parah daripada ini). Yaa jadi aku bertindak tegas lah, kalau salah ya salah. Uhm, to be honest, proses mengajarku lumayan berantakan, my English so bad really, especially the pronunciation. Karena enggak biasa mengajar dalam bahasa Inggris. From now on, I will try to teach in English more, then! Walaupun mungkin awalnya siswaku menolak habis-habisan haha. Tapi aku yakin mereka pasti akan paham sendiri. Karena bahasa adalah kebiasaan, so get ready my students! Masak kita kalah sih sama anak yang lebih muda daripada kita? We learn English not to answer questions on sheet, we learn English to speak up, to give and get information like we use native language! There's no have to worry to speak, although you always meet mistake. At least, you have tried, right? And make improvement. That's better than still using native language.

After I finished my demo teaching, they discussed it for around 10 minutes. Then, mereka memberitahuku positif dan negatif ku saat mengajarku tadi. Seperti yang kuduga, speaking-ku masih banyak yang harus diperbaiki, tapi untuk kegiatan mengajarnya sudah oke. Ahh aku jadi inget hasil tes yang EF terakhir kali dengan saat ini. Naik 2 point cuy haha, lambat banget ya haha. It's okay, nanti aku bisa ambil les IELTS saat pendaftaran sudah dibuka. Karena belajar sendiri enggak efektif, enggak ada yang bisa diajak bertukar pikiran atau sekedar menantang kemampuan satu sama lain. I hope I meet somebody who encourages me to improve my speaking there.

Kali ini ekspektasiku enggak muluk-muluk lah ya, kalau diterima Alhamdulillah, kalu enggak juga enggak apa-apa. Kenapa? Karena English First ini jadwalnya terlalu padat, setiap hari Senin-Sabtu harus kerja dari jam 1 siang sampai jam 8 malam, kecuali hari sabtu mula dari jam 10 pagi. HRD memberitahu padaku bahwa jadi guru di English First ini enggak cuma ngajar doang dan juga proses administrasi yang bisa dibillang banyak. Duh, ini sama aja kayak sekolah formal dong ya. Plus, kemungkinan tekanan disana juga lebih banyak. So, setiap tempat les pasti ada plus-minusnya juga sih. Yahh, nikmatin aja lah ya kesempatan emas ini dan prosesnya. Makasih banyak buat guru-guru dan karyawan disana yang welcome dan baik-baik disana.
Share:

Senin, 25 Desember 2017

Pengalaman menjadi Subtitle Editor

Di sela-sela kesibukanku, teman kenalanku dari Taiwan bertanya kepadaku berapa bayaran yang pantas untuk Subtitle Editor atau orang yang membuat dan mengedit subtitle. Karena ia ingin sekali belajar bahasa Indonesia, bahkan ia sudah menonton film Habibie dan Ainun. Tapi sayangnya, DVD yang ia beli subtitle-nya Bahasa Inggris. Dari film itulah, ia ingin belajar Bahasa Indonesia lebih alami Ia menawarkan 500 Taiwan Dollar setiap film. Tanpa basa-basi aku langsung mengambil kesempatan itu, lumayan pengalaman. Akhirnya kami pun sepakat, dan ia mengirimku uang 1000 TWD untuk 2 film. Tugasku? gampang banget yaitu hanya mengubah subtitle bahasa Inggris ke bahasa Indonesia sesuai apa yang orang-orang di dalam film itu ucapkan dan menggabungkan dua subtitle (bahasa inggris dan indonesia) dalam satu film.

Walaupun sekilas tampak mudah, ternyata tantangan ini cukup membuatku memutar otak, seperti:
1. Subtitle bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia di beberapa film Indonesia jarang sekali di temukan 
2. Walaupun ketemu subtitlenya, waktu subtitle-nya muncul tidak pas dengan filmnya.
3.Menggabungkan atau menampilkan subtitle bahasa Inggris dan Indonesia dalam satu film.

Setiap tantangan atau masalah selalu ada solusi, satu per satu aku menyelsaikannya dengan modal googling, baca blog sana-sini dan aplikasi. Dan hasilnya ada empat langkah yaitu:
1. Download subtitle di subscene
2. Notepad
3. Google translate
4. Aplikasi Subtitle Edit

1. Download subtitle dari subscene
Mencari subtitle baik bahasa Inggris ataupun Indonesia untung-untungan sih. Dan kebetulan hanya ada dua subtitle Inggris di film Habibie Ainun dan dua-duanya tidak pas munculnya. Untuk sementara kusampingkan itu dahulu dan lebih fokus membuat subtitle bahasa Indonesia.
Subscene
2. Notepad
Buka subtitle Inggris yang sudah di dwonload dengan cara klik kanan --> open with --> notepad
Setelah terbuka, tekan ctrl+A dan copy. Buka notepad baru dan tekan ctrl+V. Lalu ubah kalimat bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.
Notepad: Subtitle Inggris
3. Google translate
Cara termudah dalam menerjemahkan subtitle Inggris ke Indonesia adalah menggunakan google translate. Eits, tapi ini cuma optional alias enggak wajib karena terkadang hasil terjemahan bahasa Inggris ke Indonesia enggak akurat. Namun keuntungannya adalah ketika ada beberapa kalimat yang sama dengan dialog yang diucapkan, tak perlu diketik ulang. Kalian tinggal copy subs Inggris lalu paste di google translate. Copy lagi ke notepad yang baru. Setelah itu tekan ctrl+H, ubah bentuk -> ke bentuk --> lalu klik replace all.
Google translate
Notepad: Subtitle Indonesia
4.Pakai applikasi Subtitle edit
Mau yang praktis dan anti ribet? download aja subtitle edit. Kalian ga perlu buka notepad ataupun google translate. Di dalam aplikasi ini, kalian bisa leluasa menjadi subtitle editor sesungguhnya (bukan endorse ya haha). Selain bisa mengubah durasi subs dan juga menerjemahkan, kalian juga bisa mengatur waktu muncul subs tersebut jika tidak pas dengan filmnya. Dan masih banyak lagi fitur-fitur menarik lainnya yang bisa dicoba.
Aplikasi Subtitle Edit

Ternyata tantangan enggak berhernti disitu, temanku meminta subtitle Inggris dan dengan subtitle Indonesia muncul disaat bersamaan saat film ditayangkan. Setelah googling, solusinya adalah mampir di website ini. Kalian tinggal memasukkan subs Inggris di Top atau Bottom dan begitu juga subs Indonesia. Kalian bisa memilih bentuk tulisan, ukuran tulisan, dan warna tulisan. Setelah selesai, klik submit query. Kotak download akan muncul secara otomatis.
Website 2srt2ass
Begitulah ceritaku menjadi subtitle editor dadakan. Lumayan menambah pengalaman dan relasi sekaligus uang jajan hehe. Dan yang paling terpenting bisa bertemu dengan temanku yang dari Taiwan itu sekedar berbicara langsung dengannya saat ia ke Jakarta nanti.

Note: Jangan berharap banyak jika tujuanmu berkenalan dengan orang asing karena menginginkan uang, tapi berharaplah semoga berkenalan dengan mereka bisa menjadikan dirimu pribadi lebih bersyukur hidup di Indonesia ini yang mungkin masih tertinggal jauh daripada negara lain. Karena bagi sebagian orang asing, kita termasuk beruntung menjadi orang Indonesia karena kekayaan alam dan budayanya juga orangnya yang murah senyum, ramah, dan yang paling utama adalah beragama.
Share:

Selasa, 23 Mei 2017

Belajar Bahasa Korea: Huruf Hangeul (한글) Part 4

안녕하세요여러분! Kemarin kita udah belajar 21 huruf vocal hangeul, Congrats buat kalian yang sudah belajar sampai sejauh ini! Yang masih bingung check aja Part 1, Part 2, Part 3. Nah, sekarang kita belajar huruf Consonant hangeul yuk!
  

 Congrats! Huruf Hangeul kalian bertambah menjadi 26 huruf. Teatp semangat ya!


Share:

Sabtu, 20 Mei 2017

Stative Verbs in English Grammar

Source: Link
 Apa itu stative verbs? 
Stative Verbs adalah kata kerja yang tidak dipakai dalam bentuk continous/progressive seperti Present Continous, Perfect Continous atau Future Continous. Stative verbs juga menjelaskan keadaan atau situasi sementara.

Contoh: Taste
  1. A chef is tasting the soup that he made. (Seorang koki mencicipi sup yang ia buat.)
  2. The soup tastes good. (Sup itu terasa enak.)
Kalimat pertama, is tasting artinya kegiatan yang sedang berlangsung ketika seorang chef memasukkan sup ke dalam mulutnya
Kalimat kedua, tastes artinya merasakan apa yang dirasakan dari sup tersebut, bisa jadi hambar, enak atau terlalu asin. Tastes ini disebut stative verbs.

Contoh lain: Feel
  1. He is feeling the cat's fur. (Ia mengelus-elus bulu kucing.)
  2. The cat's fur feels soft. (Bulu kucing itu terasa lembut.)
Kalimat pertama, is feeling artinya kegiatan yang sedang berlangsung ketika tangan dia (laki-laki) mengelus-elus bulu kucing.
Kalimat kedua, feels artinya merasakan bagaimana bulu kucing itu terasa, bisa jadi kasar atau lembut. Feels disini juga termasuk stative verbs.

Contoh lain: Be
  1. You are stupid. (Kau gila.)
  2. You are being stupid. (Kau bertingkah seperti orang gila.)
Kalimat pertama, are stupid artinya gila sudah menjadi kepribadian kamu. Are termasuk stative verbs.
Kalimat kedua, are being stupid artinya kamu ini bertingkah gila untuk sementara saja.

Nah, dibawah ini adalah list stative verbs yang umum.
Source: Link
Sekarang, coba kalian bandingkan perbedaan kalimat dibawah ini dan tulis pendapatmu di kolom komentar.
  1. The flower smells good.
  2. Minnie is smelling the flowers.
  3. Rose sees butterfly.
  4. Rose is seeing a doctor about her headaches.
  5. Jack has a dog.
  6. Jack is having a hard time.
  7. Michael looks pale.
  8. Michael is looking for his wallet.
  9. The groceries is weighing the apples.
  10. This piano weighs too much.
Share:

Selasa, 16 Mei 2017

5 Frasa Bahasa Indonesia yang Sering Dipakai dalam Bahasa Inggris 2

Source: Link
Di postingan sebelumnya, pasti kalian sudah tau kan beberapa frasa bahasa Indonesia dalam bahasa Inggris. Yang belum baca, klik aja disini. Okay, sebelum kita lanjut ke frasa selanjutnya, kita kenalan dulu yuk sebenernya frasa itu apa? Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih. Yup, langsung aja yuk check it out! (Kita lihat)

1. Membusungkan dada = to swell with pride
Contoh: Spongebob is swelling with pride. (Spongebob membusungkan dadanya.)
Source: Link
2. Bahasa daerah = regional language / Vernacular
Contoh: Timor Island has many regional languages. (Kepulauan Timor mempunyai banyak bahasa daerah.)
Source: Link
3. Bertangan dingin = to have green fingers (British) / to have a green thumb (American)
Contoh: Mr. Habibie has green fingers. (Pak Habibie bertangan dingin.)
Source: Link
Note: Bertangan dingin artinya sesorang yang ahli dalam bidangnya.
4. Tidak enak badan = to feel wretched
Contoh: He feels wretched. (Ia merasa tidak enak badan.)
Source: Link
Note; wretched juga dapat diartikan dengan suasana hati yang kacau, sedih, atau galau
5. Fakir Miskin = Indigent
Contoh; The indigent needs your help. (Fakir miskin membutuhkan bantuanmu.)
Source; Link
Selamat! frasa-frasa kalian bertambah! Sering-seringlah memakainya saat ngobrol sama teman. Karena sejatinya bahasa itu bukan dihafalkan, melainkan digunakan, di pamerkan dan bertemu dengan bahasa itu sendiri. Yup, sampai jumpa di postingan berikutnya1
Share:

Followers

Search This Blog

Embun yang Dingin / Lautan Cinta

  Berikut ada 14 bagian masa-masa Lay Zhang bersama EXO: Panas yang Hebat / Pertama kalinya aku diatas panggung Akhir dari Panas / Api Embun...

Daily Blogger Pro Review Competition

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.