Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2019

Singapura: Empat Ras Satu Harmoni (Part 2)

Setelah curi-curi waktu luang, akhirnya bisa melanjutkan menulis pertualangan backpacker ku di Singapura. Untuk kalian yang belum baca cerita Part 1 klik disini. Pertualanganku belum usai, banyak hal-hal baru dan unik yang kutemukan saat di perjalanan Singapura. Penasaran? Teruss baca ya hehe....
Narsis dulu di Bola Muter wkwk (Source: Pribadi)
4. Day-2
Pagi-pagi jam 6 waktu Singapura aku terbangun karena alarm ku berbunyi sebagai tanda waktu Shubuh. Setelah sholat, bersih-bersih diri kami sarapan Pop Mie di kamar karena kamar yang kami pesan No Breakfast alias enggak pakai sarapan. Ini sebagai tips buat kalian juga kalau bener-bener mau irit makan pop mie buat sarapan. Sebenernya enggak sehat sii, but we have no choice. Jam 6-9 pagi, warung makan disana pada belum buka.
"TIPS: Untuk kalian yang mau berhemat, sarapan-lah P*P Mie wkwk"
Setelah keluar dari hotel, sebenarnya kami mencari air minum. Kebetulan air minum botol di hotel menurut kami masih kurang, mengingat kami akan sering berjalan kaki hingga malam. Di hotel pun disediakan air minum juga, tapi infused water alias air putih yang dicampur lemon. Aku enggak begitu suka itu karena rasanya yang asam. Sedangkan Tap Water yang kami tau, hanya tersedia di Changi Airport dan Sentosa. Kami pun memutuskan untuk mampir ke Seven Eleven untuk membeli botol air minum dan kartu perdana Singtel demi menunjang Google Map kami haha. Sudah males nyasar trus macem anak ilang dan kalau mau bertanya arah bingung juga karena enggak ada security atau satpam. Disana air minum kemasan harganya 1.8-2 SGD. Lumayan mahal haha, tapi lebih baik beli deh daripada kehausan nanti.
"TIPS: Usahakan selalu membawa botol air minum dan mencari Tap Water yang biasanya nangkring di tempat-tempat wisata seperti Changi Airport dan Sentosa, mumpung gratis dan menekan biaya pengeluaran hehe."
Welcome to Chinatown (Source: Pribadi)
Tepat pukul jam 8.30 pagi, kami ke stasiun Bugis menuju ke China Town. Stasiun Bugis dan Chinatown sangat dekat sekali, baru duduk di MRT sudah sampai di tempat tujuan. Di sana kami melihat ornamen ornamen etnis China menghiasi jalanan Chinatown. Maklum karena sebentar lagi tahun baru Cina. Disana, mulanya kami ingin berbelanja tapi lagi-lagi toko masih tutup. Akhirnya kami menuju ke Sri Mariamman Temple. Ada yang unik dengan penataan tempat ibadah disini. Disamping kiri Sri Mariamman Temple adalah Masjid Jamae (Chulia) sedangkan di sebelah sisi kanan adalah Budha Tooth Relic Temple. Ini mengingatkanku dengan buku jaman SD dimana gambar-gambar tempat ibadah digambarkan saling berdampingan satu sama lain. Aku masih ingat pelajarannya yang intinya sesama agama, kita harus menghormati agama lain. Dan akhirnya, gambar itu jadi kenyataan disini wkwk. 

Sri Mariamman Temple (Source: Pribadi)
Sri Mariamman Temple adalah tempat ibadahnya orang India. Aku dan temanku saling berpandang-pandangan, antara masuk atau enggak ke tempat ibadahnya itu. Kami melihat orang India masuk sambil mengulurkan jari-jari tangan kanannya ke tanah lalu menaruhnya ke dahinya. Dalam hati, "Mereka sedang apa? Apa itu cara salam mereka?" Karena penasaran, kami akhirnya memutuskan masuk ke dalam. Disana sudah tercium wangi bunga dan juga terlihat banyak patung-patung khas India. Karena disana dilarang foto-foto kami pun hanya melihat-lihat. 

Budha Tooth Relic Temple (Source: Pribadi)
Setelah puas, melihat-lihat kami pun ke Budha Tooth Relic Temple dimana orang Cina beribadah. Dari luar sudah terlihat jelas arsitekturnya yang Cina banget dengan warna merah menyalanya. Kami pun masuk ke dalam, dan ternyata bangunan ini mempunyai 4 lantai dan 2 lantai basement, dan kebetulan juga orang Cina disana pagi-pagi sedang beribadah. Kami pun naik lift ke lantai M, 2, 3, dan 4 yang masing-masing terdapat museum yang berbeda-beda. Ada museum sejarah agama Budha terbentuk, Koleksi patung-patung dari berbagai belahan dunia, kendi-kendi yang berisikan abu yang menurut kami adalah makam dan juga ada taman di lantai paling atas. Agak lama kami disana karena setiap lantai kami kunjungi dan ini mengingatkanku kepada film Cina yang pernah kutonton. Aku merasa bahwa ini terlihat mirip dengan Sri Mariamman Temple karena banyak sekali patung-patungnya.
Taman di Budha Tooth Relic Temple

Di sebelah kanan aku ada ptung kecil-kecil yang bisa sampai ribuan sedangkan di kirku ada taman dengan 2 kolam ikan di dalamnya (Source: Pribadi)
Finally, pemberhentian terakhir Masjid Jamae (Chulia). Tempat Ibadah orang Islam yang sederhana dan enggak neko-neko. Kami mampir dan aku pun sholat disana. Ada yang menarik dari keran di setiap masjid disana. Keran disana itu seperti shower dan di depan keran terdapat tempat duduk. Awalnya aku bingung tempat duduk ini untuk apa? Saat aku lihat mbak-mbak berwudhu, dia duduk sambil mengambil air wudhu. Dalam hati, enak banget ini enggak perlu capek-capek berdiri wkwk.

Selesai sholat, kami pun meluncur ke Chinatown market. Akhirnya toko-toko disana sudah pada buka. Dan kami pun mulai berburu berbelanja untuk oleh-oleh. Disana, mereka menjual berbagai macam souvernir seperti pajangan lemari, gantungan kunci, topi, kipas, tas dan masih banyak lagi yang berbau Singapura dan juga khas Cina. Ada hal yang menarik saat kami berbelanja disana yaitu tulisan tradisional Cina dengan nama kita sendiri atau bisa juga dengan nama pasangannya. Mereka menjualnya dari harga 5 - 20 SGD. Menurutku terlalu mahal, mending buat makan enak diluar hehe.

Puas berbelanja, kami pun mencari makan siang. Karena di Chinatown kami tidak menemukan tempat makan halal, kami pun melipir ke Hawker (semacam berbagai warung makanan murah jadi satu ada disana) berkat Mbah Google Map. Temanku menyarankan untuk mencoba makanan Cina yang terkenal disana. Tapi aku masih ragu karena enggak ada logo halalnya. Akhirnya, aku memilih makan nasi dan ayam lagi yang bertuliskan logo halal disana. Seperti biasa, rasanya sama kayak Nasi Lemak. Oiya, ada hal bodoh yang kulakukan saat makan disana. Makanan yang penjual kasih selain nasi dan ayam ada mangkong yang berisikan air dan lemon. Bodohnya aku adalah aku mengira itu adalah kobokan untuk cuci tangan HAHAHAHA. Tanganku langsung kepanasan dan aku malu sendiri. Untung temanku saja yang lihat. Hedehh, wong ndeso tenan aku di negeri orang wkwk. Ada juga hal unik terjadi. Saat aku mencari meja makan, ada tiga wanita muda yang berwajah Cina yang bertanya kepada kami kalau tempat duduknya kosong atau engga. Lalu kami jawab enggak. Saat aku lihat makanan yang mereka pesan porsi mereka gede dan ada seafoodnya. Yummy, makanan mereka kelihatan enak. Mereka berbicara bahasa Cina, duh rasanya pengen ikutan nimbrung. Aku ngerti beberapa kata yang sering aku dengar di TV Cina. Tapi enggak ngerti secara keseluruhannya. Mungkin kalau aku sering dengerin orang ngomong Cina setahun disini, aku paham. Ini sama seperti ketika aku mendengarkan orang Jawa ngomong, aku paham apa yang mereka maksud tanpa harus belajar formal karena terbiasa mendengarkannya.

Rencana pembangunan Singapura di Singapore City Gallery (Source: Pribadi)
Next, kebetulan disamping ada Singapore City Gallery. kita mampir sebentar disana. Di dalamnya, kami takjub dengan kreativitas mereka menyusun Gallery sedemikian rupa dan semenarik mungkin. Di Lantai pertama, kami melihat peta Singapura ukuran jumbo dengan jalanan MRT-nya. Setelah aku lihat ternyata dari Changi Airport ke Stasiun Bugis tempat dimana hotelku berada, ternyata lumayan jauh. Sedangkan Chinatown sangat dekat sekali dengan Bugis. Karena perjalanan selanjutnya kami ke Sentosa, ternyata enggak begitu jauh dari stasiun Chinatown. Selanjutnya, kami pun naik ke lantai 2, dimana karya-karya anak-anak Singapura di pampang disana sebagai bentuk apresiasi. dan disebelahnya ada sejarah Singapura dari jaman sebelum perang, setelah perang sampai saat ini. Singapura sebelum perang, ternyata warganya kebanyakan hanya bermata pencaharian nelayan. Lalu di tahun 1965, Singapura di beri kemerdekaan dan setelah itu melakukan banyak pembangunan yang pesat. Di tahun 60-an setelah pasca perang, Singapura adalah kawasan yang kumuh. Ini terlihat dari foto-foto yang terpampang disana dan mereka harus menghadapi sulitnya mempunyai tempat tinggal saat itu, ditambah lagi lahan disana sangatlah kecil. Usut punya usut, temanku bilang kalau di tahun 60-an, karena di Singapura banyak ras dan etnis yang sangat berbeda, pemerintahan disana membuat peraturan untuk mejaga keharmonisan antar ras. Anak-anak mereka di didik sejak kecil tentang tolenransi suku dan budaya. Sempet terbesit di pikiranku, kalau aku punya banyak teman dari berbagai negara di Singapura, itu mungkin seru. Selanjutnya, di tahun 70-an, rakyat Singapura sudah bisa merasakan MRT. Haha jangan bandingkan sama sini ya nak. Lalu di tahun 80an, Singapura berusaha membuat lingkungannya menjadi tempat yang nyaman dan ramah lingkungan. Di tahun 90an, pemerintahan berusaha menuntaskan angka pengangguran. Dan yang terakhir di abad 20, Singapura kini telah menjadi magnet pariwisata dan juga bisnis. Sayang sekali, saat aku mau baca keterangannya, malah dipagerin enggak boleh masuk karena sedang diperbaiki. pffttt....

Perjalanan kami berlanjut ke Sentosa Island. Dari Stasiun Chinatown kami turun di stasiun Harbour Front lalu membeli tiket kereta ke Sentosa Island dengan membayar 4 SGD sepuasnya. Tiket itu bisa dipakai naik kereta berkali-kali. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi Universal Studios yang terkenal dengan bola dunia-nya yang ikonik. Oiya, kalian bisa masuk ke dalam dengan membayar 700ribuan wkwk. Mahal cyn, jadinya foto di depan bola dunia sudah cukup lahhh wkwk. Next, kami berjalan kaki menemui Merlion Sentosa. Di dalam Merlion Sentosa kalian bisa naik ke atas ke dalam mulutnya singa itu. Jadi, dari atas kalian bisa melihat pulau Sentosa dari atas, tapi lagi-lagi harus bayar hahaha. Di pulau Sentosa ini banyak banget spot-spot bagus, cocok nih buat kalian yang suka ngisi feeds ig biar kekinian. Anyway, kami lanjut naik kereta Sentosa lagi karena terlalu lelah berjalan kaki terus (maklum enggak pernah jalan kaki wkwk). Destinasi selanjutnya kami ke Palawan Beach. Tetapi sebelum kesana, kami mengisi air minum dulu karena sudah mau habis. Tap water memang benar-benar penyelemat disana. Tidak sengaja, aku melihat botol aqua yang dipegang turis disana. Aneh, karena saat aku beli air minum di Seven Eleven enggak ada. Ternyata oh ternyata ada salah satu toko yang memang menjual Aqua disana. Wew, Aqua bisa sampai nyasar disini haha.
Angkat Bola Muter wkwk (Source: Pribadi)
Merlion Sentosa (Source:Pribadi)
Setelah mengisi air minum, kami lanjut berjalan kaki ke pantai Palawan hampir sekitar 900 meter. Gila, emang ini kaki udah gempor wkwk, but we have no choice. Dengan sabar, kami terus berjalan kaki dan akhirnya terbayarkan sudah lelahnya. Pantai disana masih cantik dan biru banget. Aku kira kayak pantai di Ancol, tapi ini enggak. Airnya masih jernih dan biru, pasirnya pun halus, putih dan bersih. Tidak ada satu titik sampah pun disana. Duh, puas banget disana berguling-guling di pantai hihi. Walaupun sudah sore, tapi matahari tetap bersinar cerah dan panas. Pantai ini membayar kekecewaanku saat ke Belitung yang jauh dari luar ekspektasiku. Karena aku suka sekali mengunjungi berbagai pantai Indonesia, pantai Palawan ini lumayan lah cuci mata. Seger lihat yang birunya laut, putihnya pasir lalu hijau pepohonan. Yang buat aku takjub adalah Singapura ini bener-bener keren merawat alamnya. Padahal dari atas pesawat, Singapura enggak kalah banyak industri-nya seperti di Jakarta. Disana, kami juga mengunjungi pulau Palawan kecil dengan menggunakan jembatan gantung. Turis dimanjakan sekali disana karena ada gazebo tingkat tiga untuk menikmati pemandangan pantai dari ketinggian. Wah ini cocok sekali saat melihat sunset, tapi kami memangkas waktu tidak sampai menunggu sunset karena agar tidak terlalu larut malam pulang ke hotel. Sebenarnya masih ada pantai Siloso dan Tanjong yang ingin kami kunjungi juga. Tapi ternyata jauh kalau jalan kaki hahaha.

Sesungguhnya pantai ini lebih bagus daripada di foto. Jembatan Gantung di pantai Palawan (Source: Pribadi)
Puas foto-foto dan menikmati pemandangan alam, kami pun melanjutkan perjalanan ke Orchard Road. Teman Singapuraku bilang kalau ke Orchard Road lebih cantik saat malam hari karena banyak lampu-lampu cantik disana. Tapi sebelum kesana, kami mengisi perut kami terlebih dahulu di foodcourt Vivo City. Karena bosan makan nasi dan ayam terus, kami pun memesan makanan Cina yaitu Mie Brisket (aku lupa nama panjangnya wkwk). Jadi makanan Cina ini berisikan mie dengan potongan daging sapi bagian dada bawah sekitar ketiak. Saat kami memesan, pertama-tama kami ditanya mau porsi besar, sedang atau kecil. Aku memilih porsi kecil karena memang sedang tidak nafsu makan dan sekaligus menghemat, sedangkan temanku porsi sedang. Porsi kecil diberi harga 6.80 SGD sedangkat porsi sedang 8.80 SGD. Selanjutnya, kami memilih mie jenis apa. Disana ada 5 jenis, ada yang bentuknya seperti mie ayam, kwetiau dan masih banyak lagi. Aku pun bertanya kepada pemilik tokonya, mana yang paling enak dan ada tiga jenis yang sering dipilih orang-orang. Akhirnya aku memilih mie dengan diameter terkecil karena baru pertama kali aku lihat mie sekecil itu wkwk. Hidangan yang kami pesan pun siap untuk dimakan, dan yummy enak banget. Apalgi kuahnya hangat dan segar, mie-nya juga enak, daging sapinya lembut sih tapi lagi-lagi rasanya sama saja seperti ayam. Duh, emang dasar lidahku lidah Indonesia wong ndeso, karena tiap hari dikasih makan tempe dan tahu wkwk. Aku lihat di jendela besar, angin bertiup kencang diluar dengan hujan yang sangat deras. Wah ternyata di luar hujan gede. Beruntung kita enggak kehujanan tadi di pantai. Timing-nya tepattt, sempet khawatir kalau kehujanan karena selalu mendung disana. Doa kami pun terkabul agar tidak turun hujan saat kami jalan-jalan di outdoor.

Mall ION, Orchard Road (Source: Pribadi)
Ok, urusan perut selesai kami pun meluncur ke Orchard Road. Dari stasiun Harbour Front kami menapakkan kaki di stasiun Orchard. Saat kami keluar dari stasiun, kami disambut hangat oleh ikan-ikan koi di atas kepala kita alias layar besar yang menempel di atap mall ION, Orchard Road itu. Cuma bisa geleng-geleng kepala, sejauh ini mall-mall mewah dan besar yang pernah kukunjungi di Jakarta enggak sekreatif ini. Dan disetiap mall isi tokonya barang-barang branded semua. Pantas saja temenku itu yang dari Singapura suka ngasih tau barang branded. Ya mana ngeh gueee dan gak minat juga kalo ada yang murah kenapa harus beli yang mahal haha. Kayaknya juga dia nganggep orang Indonesia kaya-kaya deh dan aku juga nganggep orang Singapura kaya juga karena kuat beli barang branded haha. Ok, kami pun keluar dari Mall ION dan menemukan betapa cantiknya cahaya lampu yang menghiasi mall itu. Iseng mikir juga, berapa tagihan yang harus dibayar per bulan ya? haha. Btw, tujuan kami ke Orchard Road bukan lihat lampu doang wkwk, tapi mau beli cokelat yang enggak di produksi di Indonesia. Aku ketagihan gara-gara temenku itu hadiahin aku itu cokelat yang dia beli di Choc Spot, Mall Lucky Plaza, Orchard Road. Nama cokelatnya adalah Milka ukuran 300 gram seharga 7 SGD. Kebetulan ada yang harganya 5 SGD dengan rasa yang berbeda tetapi expired-nya 2 bulan lagi. Enggak apa-apa deh, cokelat kan dimakan bareng-bareng nanti dirumah hehe.

Setelah dapet cokelatnya, kami pun pulang ke hotel jam 9 waktu Singapura. Waktunya istirahat di atas kasur yang nyaman dan wangi.... And see you again di perjalanan hari ke tiga-ku selanjutnya (Baca: Part 3) Terimakasih juga sudah membaca sampai bawah hehe.
Share:

Minggu, 11 Februari 2018

Go Back to Tidung Island

 Setelah dua tahun kemudian, kesampaian juga sekeluarga jalan-jalan ke Pulau Tidung. Kali ini no minimal budget alias gak berhemat. Alhasil, yang awalnya naik perahu kayu seharga Rp 50.000 diganti dengan kapal Bahari Express seharga Rp 75.000. Soal kenyamanan dan kecepatan memang kapal Bahari Express yang bagus karena di fasilitasi TV,AC, colokan dan kantin. Kapal ini hanya butuh 1,5 jam sampai di pulau Tidung, berbeda dengan kapal kayu yang membutuhkan 2,5-3 jam. Namun, kapal kayu berangkat lebih dahulu jam 7.30, sedangkan kapal yang kami tumpangi berangkat jam 8.15. Lucunya, menurut pengalamanku dua tahun lalu, kapal berangkat jam 7 namun mungkin karena liburan tahun baru jadinya berangkat jam 8. Kami yang sampai di pelabuhan jam setengah tujuh, akhirnya menunggu dengan perut keroncongan karena belum sarapan. Setelah naik kapal, kami mendapatkan seat lantai satu paling depan. Namun, orang tua lebih suka duduk di teras luar lantai dua. yang goyangannya terasa memusingkan saat kapal masih di pelabuhan. Aku dan adik-adikku duduk manis di seat lantai satu, membiarkan ibu dan ayahku berduaan di kapal hahahaha. Tapi itu gak bertahan lama, karena kapal mulai berlayar dan air laut cokelat berubah menjadi kebiru-biruan. Aku kembali ke lantai dua, melihat pemandangan laut dan juga pulau-pulau kecil yang kapal kami lewati. Kami pun berfoto-foto ria di atas kapal sambil makan pop mie dan minum kopi.
Di lantai 2 kapal Bahari Express                 Source: Pribadi

Setelah sampai di pulau Tidung, seperti biasa disuguhi dengan air laut yang biru dan jernih. Entah ada angin apa, tiba-tiba ada bapak-bapak mendekatiku menawarkan homestay di dekat laut dengan harga Rp 300.000 per malam dengan fasilitas 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, AC, TV dan air galon. Cukup terbilang standar untuk harga saat musim liburan. Sangat nyaman tempatnya karena keluar, langsung disuguhi pemandangan laut biru yang tenang, bahkan bisa berenang di laut bersama ikan-ikan lainnya. Kami pun menginap sehari dan sekaligus mengambil paket snorkeling, banana boat, dan donat boat plus foto dengan harga 150.000 per orang. Hmm, sebenarnya agak mahal sih, tapi yaudahlah ya.
Laut depan homestay     Source: Pribadi
Setelah membereskan barang-barang, kami berjalan kaki menuju ke jembatan cinta. Aku kira dekat, ternyata lumayan jauh. Sempat ditawari sepeda tapi ibuku menolak karena males goes sepeda dan akhirnya jami naik bentor becak motor seharga Rp 20.000 sekali jalan. Sesampai di jembatan cinta, kami berjalan lagi menuju ke pulau Tidung kecil. Karena aku udah pernah posting solo backpacker ke Pulau Tidung sebelumnya, tinggal klik aja kenapa kok namanya jembatan cinta. Setelah puas foto-foto, kami kembali ke tempat penginapan untuk beristirahat sebentar sambil menunggu guide kami datang kita. Karena homestay yang terlalu nyaman, kami semua tertidur pulas, kecuali adikku yang laki-laki karena ia khawatir kalau guide-nya datang (ciee guide aja ditungguin, apalagi kamuu hahah).
Source: Pribadi
Akhirnya yang ditunggu datang juga, sekitar jam 3 sore kami berangkat ke spot snorkeling naik kapal dari Jembatan Cinta dan oh my god. Ombaknya bisa dibilang cukup keras. Hidung dan mulutku slalu kemasukan air laut dan rasanya asin dan pedih. Beruntung aku mendapatkan momen pas saat foto bersama dengan ikan-ikan kecil. Sayangnya, foto-foto itu berupa CD dan saat kucoba di PC, CD-nya enggak bisa dikeluarin wkwk. Yasudahlah, nanti dibongkar aja PC-nya. Next, setelah puas snorkeling kami pun lanjut banana boat dan donat. Untuk pertama kalinya kami menaiki banana boat dan juga donat. Donat? Apa itu donat? Jangan pikir donat yang kalian makan ya wkwk. Bukan, itu sejenis kayak banan boat cuma ini bentuknya bulet kayak donat dan lebih seru lagi daripada banana boat. Jadi, kami diputar-putar berkali-kali sampai-sampai donat-nya naik-turun karena kecepatan boat yang lumayan tinggi. Wah seru deh pokoknya.
Pantai di Pulau Tidung Kecil                 Source: Pribadi
 Sekitar jam 5 kami pun kembali ke homestay, namun aku, ibu, dan adikku yang paling kecil keluar lagi. Kalau Jembatan Cinta itu pantai sebelah Timur maka kami menuju pantai sebelah barat untuk menikmati sunset. Kami menyewa motor sehari dengan harga 100.000 ketimbang naik bentor yang bisa bikin kantong jebol. Sampai disana, pantainya hmm bisa dibilang masih bagus di pantai dekat jembatan Cinta ya. Tapi lumayan buat foto-foto sunset. Sambil menunggu sunset kami pun bermain di taman bermain buatan Pak Ahok. Dan tamannya itu keren dan layak banget buat tumbuh kembang anak. Jujur aja, disekitar rumahku udah enggak ada lagi tuh yang namanya taman bermain dan kasian anak-anak jaman sekarang lebih aktif jari-jarinya ketimbang tubuhnya (termasuk aku wkwk). Setelah puas foto-foto sunset, kami pergi cari makan dan jatuh pada pilihan udang haha. Mungkin kalau kalian postingan-postingan sebelumnya pasti udang ini selalu menjadi primadona setiap kali jalan-jalan. Kenapa? Karena rasanya yang gurih dan enak dimakan. Juga, aku mau tau hidangan seafood apa aja di berbagai daerah Indonesia. Setelah membelinya kami langsung ke homestay karena ayah dan adikkku mungkin sudah kelaparan sedari tadi hahaha. Kami pun menikmati makan bersama walaupun udang asam manis-nya sama aja kayak di Jakarta wkwk. Setelah itu tidur lagi wkwk. Jangan tanya kenapa kami slalu melewatkan malam barbeque karena kami terlalu lelah di perjalanan wkwk.
Taman bermain di Pulau Tidung               Source: Pribadi
Pantai sebelah barat            Source: Pribadi
Pagi-paginya kami naik motor menuju Jembatan Cinta lagi untuk berburu sunrise. Di perjalanan kami membeli nasi uduk dambil menikmati sunrise. Yeah kami dapet sunrise-nya sih tapi udah keburu keataas matahirnya alias kesiangan haha. Setelah sarapan kami jalan-jalan lagi kali ini ke tempat alun-alun dekat laut. Keren, Saat kaki kami masuk ke dalam laut, kami bisa melihat ikan-ikan kecil berkeliaran di air laut yang jernih. Setelah puas menikmati pemandangan, hanya aku dan adik-adikku kembali ke homestay dengan naik motor, sedangkan ibu dan ayah asik jalan kaki berduaan (yang single mohon bersabar wkwk). Bisa dibilang ini pertama kalinya kami sekeluarga bisa piknik bareng-bareng apalagi bisa sampai nginep dan sejak itu ibuku jadi ingin jalan-jalan sekeluarga lagi. Oke sip deh, aku juga.
Sunrise                 Source: pribadi

Daann disini letak kelucucan terjadi, kami hampir ketinggalan kapal menuju ke Jakarta! Menurut pengalamanku sebelumnya kapal kembali ke Jakarta saat siang hari tapi ternyata kapal Bahari Express berangkat pagi dan kami kehabisan tiket. Terburu-buru kami check out homestay dan menuju ke pelabuhan. Ibuku enggak mau naik kapal kayu dia maunya kapal Bahari Express. Akhirnya setelah tanya sana-sini dengan harga Rp 100.000 per orang, kami dapat kapal Bahari Express versi kecil yang hanya muat 70 orang. Yah setidaknya kami masih bisa pulang ke Jakarta wkwk.

Yah, begitulah pengalaman jalan-jalanku dari solo backpacker ke family trip. Perubahan 2 tahun yang lalu di pulau ini sangatlah berbeda. Kalau dulu pulau ini masih minim pembangunan dan masih banyak tanah lapang tapi kali ini terasa sempit karena banyaknya pembangunan seperti sekolah. Sehingga sifat alaminya terasa kurang dan juga penduduk lokal biasanya ramah-ramah. Next time, semoga bisa jalan-jalan lagi ke pulau yang berbeday Aamiin. Bye bye!
Share:

Jumat, 09 Februari 2018

Lampung: Tanah Sumatera Rasa Jawa

Liburan kali ini adalah hadiah setahun lebih perjuanganku menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah, walaupun butuh sebulan menunggunya karena menghindari ramainya liburan tahun baru. Aku dan temanku pergi ke tanah Lampung, Sumatera Selatan. Yup, tujuan wisata kali ini full main air laut yang kalau kena di hidung dan mata pedih, tapi tak sepedih cerita cinta kita wkwk. Awalnya kami sebenernya ingin ke Belitung, tapi sayang oh sayang uangku habis kebeli baju wisuda dan segala macem hahahah. Sempet, temenku kecewa enggak jadi ke Belitung, tapi akhirnya dia bahagia juga (Yaiyalah trip kali ini pemandangannya bagus banget). Yup, kami ke jalan-jalan ke Pulau Pahawang, tapiii ternyata enggak cuma Pulau Pahawang aja sih, juga Pulau Pahawang Kecil dan Pulau Kelagian. Okay gaes, tetep simak cerita selanjutnya dibawah ya.

Source: Pribadi
 DAY 1
Hari pertama adalah hari penuh perjuangan. Sekitar jam 07.30 kami berangkat naik Bus Primajasa jurusan Merak. Selama hampir 4 jam kami duduk manis di bus itu diselingi dengan para pengamen yang berbeda-beda dan juga asongan. Lebih parahnya lagi adalah jalanan macet karena malem Jum'at. Dari semua hal yang enggak aku suka naik bus atau mobil adalah macet, enggak bisa nyalip kayak naik motor (emangnya Rossi apa? wkwk). Dengan modal 30 ribu sekali jalan, kami diberi fasilitas bus AC yang nyaman. Karena AC-nya terlalu dingin, bodohnya diriku lupa membawa jaket. Ingetnya aku adalah biasanya cuaca di pulau kecil lebih panas seperti di Pulau Tidung, tapi aku lupa perjalanan malam yang dingin menembus kulitku. Aishh menyebalkan, rasanya dingin tanpa kehangatannya (jaket maksudnya). Jam 11.30 malam, kami sampai di depan pelabuhan Merak dan suasana pelabuhan rame gaes. Pusing liat bis parkir sembarangan di tepi jalan. Kami berdua berkumpul lebih dulu di depan Alfaexpress, menemui tour guide kita: Mas Koko (Sempet chat, manggil nama dia aja, aku kira dia ada keturunan Chinese karena Koko dalam bahasa Mandarin-Indonesia adalah kakak laki-laki. Eh enggak taunya dia orang Indonesia tulen, duh).
 
Setelah berkumpul dan berdoa. kami pun masuk ke pelabuhan Merak. Karena aku pakai jasa trip paket, aku enggak tau berapa harga tiket kapalnya. Saat aku melewati loket, harganya 15 ribu dewasa dan 5 ribu anak. Lucunya, saat aku memasuki kapal Ferry, dikenakan biaya tambahan sebesar 10 - 20 ribu jika mau duduk dengan kursi nyaman atau lesehan. Karena kami berdua terlalu lelah di jalan dan kurang tidur, kami menyewa kamar dengan 2 tempat tidur seharga 100 ribu yang lumayan buat mejemin mata. Tempatnya kecil kayak di film Titanic dengan dinding Vintage dan juga lukisan-lukisan bunga yang mempercantiknya. Daaan disini lagi-lagi aku harus bertarung melawan dingin! AC-nya lebih parah daripada di bus. Untung di dalam kamar ada selimut, badanku bersembunyi dibalik selimut haha. Dengan segala kenorakan kami di dalam kapal Ferry, dimulai dengan suara jangkar yang ditarik tepat di depan kamar kami dan juga goyangan kapalnya. Akhirnya kami pun tertidur sepanjang perjalanan di kapal selama hampir 3 jam.

DAY 2
Tiba-tiba aku membuka kedua mataku. Jam berapa ini? Kok kapalnya berhenti bergoyang? Jangan bilang pelabuhan Bakauheni kelewat karena ketiduran. Aku langsung cek jam di hpku, waktu menunjukkan jam sekitar 2.45 Harap-harap cemas semoga enggak terlewat. Kulihat temanku masih tertidur nyeyak. Tak lama suara pintu di ketuk. Staff kapal memberitahu kita bahwa kapal sudah sampai di Pelabuhan Bakauheni. Alhamdulillah, enggak kelewat wkwk. Eitt, sebelum meninggalkan kapal, foto dikit boleh lah haha.
Di kapal Fery               Source: Pribadi
Taadaaa! Selamat datang di Pulau Sumatera. Kami pun di sambut meriah dengan hujan deras yang cuma lewat. Kami pun masuk ke bus mini travel menuju ke Dermaga Ketapang. Perjalanan memakan waktu sekitar 5 jam, rasanya nyaris seperti pulang kampung. Sampai di Dermaga Ketapang, kami sarapan nasi uduk terlebih dahulu, lalu mengambil alat snokeling dan kaki katak. Kami pun berangkat naik kapal kayu menuju spot snorkeling Tanjung Putus, Didalam laut sana, ada tulisan Selamat Datang ditemani dengan ikan-ikan garis-garis biru kecil yang mirip di Pulau Tidung. Sayang, kondisi tubuhku enggak fit hari itu karena angin malam dan kurang tidur juga. Aku pun kembali ke perahu, dan apa yang aku khawatirkan terjadi juga yaitu mabuk laut untuk pertama kalinya. Rasanya pengen cepet-cepet ke homestay hahah, payah. Gara-gara mabuk laut, aku melewatkan sesi foto underwater disana, sedih.

Dermaga Ketapang             Source: Pribadi
Spot Snorkeling              Source :Pribadi
Next, kami pun ke homestay yang bertempat di Pulau Pahawang Besar. Disana orangnya ramah-ramah dan terasa sekali saling gotong royongnya. Yang bikin aku takjub adalah sepertinya daerah Lampung, membuat produksi air mineral sendiri dan enggak kalah segarnya dengan produk *qua. Juga, pasokan listrik mereka memakai mesin diesel. Wah, mereka mandiri ya! 

Waktu istirahat hanya beberapa jam. Bukannya tidur sebentar, temanku mlah ngajak keluar, foto-foto di bibir pantai. Benar-benar temanku yang satu ini energinya enggak habis-habis. Akupun pasrah sajalah, toh disini cuma 2 hari harus bisa mengabadikan momen sebanyak-banyaknya. 

Pantai di Pulau Pahawang Besar            Source: Pribadi

Pantai di Pulau Pahawang Besar                Source:Pribadi
 Dan selanjutnya kami ke Rumah Nemo. Semangat 45, aku kembali snorkeling! Kali ini badanku bisa diajak kompromi haha. Dengan bantuan guide, aku ditarik masuk dibawah laut agak dalam untuk sesi foto bersama Nemo. Hanya beberapa detik aku bisa bertahan nafas, karena tak terbiasa. Seperti ada tekanan di dalam kepalaku. Setelah selesai foto underwater, kami pun berkeliling mengitari rumah Nemo. Disana aku bisa melihat terumbu karang yang disusun dengan rapi seperti sawah, ada juga rumah nemo yang persis seperti di film Finding Nemo. Bahkan temanku melihat ada Dorry. Duh semoga aku masuk dalam film Finding Nemo kali ini wkwk. Sayangnya, saat berbagai macam ikan berkumpul di satu spot, kacamataku terlalu buram karena embun plus mata minusku. Aku cuma bisa lihat segerombolan ikan mondar-mandir di depanku dan itu keren.
Snorkeling di Rumah Nemo            Source: Pribadi
Setelah puas snorkeling, kami pun ke Pulau Pahawang Kecil dan Oh My God! Pasir Putihnya halus banget, ini mirip dengan Pantai Pandawa, Bali. Bagusnya lagi, laut seperti terbelah menjadi dua, membentuk jalan dari pulau satu ke pulau lainnya. Kami pun menikmati mengabadikannya dengan foto-foto. Ada hal yang menarik disni, yaitu ada dua kepiting warnanya berkilau mirip sekali dengan pasir putih dan mereka saling bertindihan. Kami pun berteriak karena dekat dengan kaki kami, kepitingnya pun langsung bubar dan bersembunyi di timbunan pasir putih wkwk.
Pahawang Kecil        Source: Pribadi
Pas Maghrib, kami pun kembali ke homestay. Yang lain pada barbque-an cuma aku dan temanku yang tidur dari isya sampai esoknya. Teman-teman travel lainnya enggak tega membangunkan kami karena kami tertidur nyenyak haha. Seneng banget teman-teman travel kami sangat baik-baik, ramah, dan saling bantu, bahagianya kami terlihat paling muda disini hehe.

DAY 3
Sekitar jam 4.30 pagi kami sholat dan mandi, ingin mengejar sunrise. Sayang sekali, cuaca mendung jadinya enggak begitu kelihatan. Setelah puas foto-foto, kami kembali ke homestay untuk sarapan dan packing bawaan kami. Ternyataaa,, bawaannya tambah berat karena pakaian kemarin belum terlalu kering. Tambah kuruslah ni badan wkwk.

Perjalanan pulang lagi-lagi diantar dengan kapal kayu. Sebelum sampai ke Dermaga Ketapang, kami mampir ke Cukuh Bedil, tempat dimana candi-candi terletah dibawah laut. Namun sayang, terlalu banyak ubur-ubur disana sehingga kami lanjut ke Gosong Bekri dimana banyak terumbu kerang disana. Tapiiii, kami enggak ikutan snorkeling disana karena persiapan untuk perjalanan yang panjang wkwk. Next, wisata terakhir kami: Pulau Kelagian Kecil. Ini adalah pulau dan pantai tercantik yang pernah kukunjungi. Variasi warna putih pasirnya, biru muda dan biru tua sangat pas dan dikelilingi bukit-bukit gunung tinggi disekitarnya. Pemandangan yang luar biasa, aku makin jatuh cinta dengan Indonesia karna keindahan alamnya.
Pantai diPulau Kelagian                       Source: Pribadi
 Finally, kami pun kembali melanjutkan ke Dermaga Ketapang dan pulang ke Jakarta. Hmm, bagus sih dan seru tapiii kurang lama! Yahh, namanya juga anak muda yang penasaran tentang banyak hal, mau lelah kayak apapun pasti enggak kerasa, eh ujung-ujungnya badan berasa remuk wkwk. But, it's worth it loh! Nambah pengalaman.  Sayangnya di Pulau Pahawang, aku enggak bisa mencoba masakan udang atau cumi laut khas sana karena memang enggak tersedia disana. Aku harus mampir ke Bandar Lampung yang enggak mungkin karna aku pakai jasa travel. Yasudahlah, tak apa mungkin lain kali kalau ada kesempatan lagi.

Saat perjalanan pulang, aku baru tersadar. Ternyata pulau Sumatera benar-benar dipenuhi dengan bukit-bukit tinggi di saat perjalanan ke Pelabuhan Bakauheni. Bahkan di samping tebing, ada lautnya. Berbeda sekali dengan jalan utara pulau Jawa yang rata-rata lebih landai dan bukitnya tak sebanyak di Sumatera. Jika di Pulau Bali terasa kental sekali budaya dan agamanya, kalau di Pulau Sumatera terasa sekali orang Jawa atau Sundanya. Aku pernah membaca satu artikel tentang Lampung yang kukira ada di Kalimantan (wkwk), bahwa Lampung kehilangan identitasnya dimana orang Jawa lebih banyak tinggal di Lampung ketimbang warga aslinya. Layaknya seperti Jakarta yang kehilangan Betawinya. Padahal aku penasaran bentuk rupa mereka seperti apa? Putih ga ya kulitnya? dan bahasanya seperti apa? Bagaimana dengan masakannya? Wah sayang sekali, untuk soal budaya disana kurang dapet ya. 

Okay, sampai disini cerita travellingku. Semoga, next time bisa lanjutin lagi dengan cerita seru lainnya yang tentu dengan tempat berbedaa. Yeah, aku harap aku bisa menemui pantai, laut dan pulau kecil lagi. Aku suka travelling di laut karna udang dan cumi-cumi tinggal disana wkwk. Dan semakin sering aku mengunjungi berbagai pulau, semakin aku suka dengan Indonesia yang keindahan alamnya semakin mempesona.
Share:

Sabtu, 15 Juli 2017

5 Aktivitas Seru saat Jalan-Jalan ke Teluk Trenggalek


Hello Guys, bertemu lagi. Gimana liburan kalian? Seru kah atau malah mager dirumah? Cuma bangun, makan, tidur? (Sengaja enggak cantumin mandi karena biasanya hari libur, mandi pun ikutan libur wkwk) Tenang, jangan khawatir bagi yang kemarin belum sempet liburan, saya rekomendasikan tempat wisata yang worth it banget untuk liburan kalian selanjutnya. Yup, sebut saja jalan-jalan ke Teluk Trenggalek. Teluk Trenggalek bertempat di bagian selatan Jawa Timur. Untuk lebih jelasnya kalian bisa lihat di bawah ini.



Bisa kalian lihat, bahwa Teluk Trenggalek ini tidak hanya menawarkan satu tempat wisata saja melainkan tiga tempat atau lebih dengan jarak yang lumayan berdekatan tanpa merogoh kocek yang dalam. Disana juga banyak aktivitas seru yang bisa kalian lakukan! So, tunggu apalagi? Just Check it out!

1. Makan pagi menjelang siang di Pantai Cengkrong
Sumber: pribadi
Jika kalian ingin bersantai bersama keluarga dan ingin menikmati pantai yang masih sepi, Pantai Cengkrong tempatnya. Disana mata kalian dimanjakan dengan pepohonan kelapa yang rindang, garis pantai melengkung membentuk huruf C, bukit-bukit hijau yang hampir mengelilingi pantai, dan jika kalian beruntung kalian bisa melihat para nelayan sibuk mengeluarkan hasil tangkapannya di tepi pantai. Kalian bisa membawa tikar dan makanan dari rumah. Selain mengurangi budget makan (karena makanan disana lumayan mahal), kalian juga bisa menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi dan suara ombak pantai yang menggoda kalian untuk bermain dengannya. Satu kekurangan dari pantai ini adalah: banyak sampah bertebaran di bibir pantai. Kalau pepatah bilang gajah mati meninggalkan gading, maka manusia menggalkan sampah. Jadi, untuk kalian-kalian semua yang iingin berkunjung ke Pantai Cengkrong, tolong jagalah lingkungan sekitar pantai dan taruh sampah di tempat sampah rotan yang telah disediakan. Jadilah visitor yang cerdas dan tahu kebersihan, sayangkan sekolah tingi-tinggi tapi masih nyampah hehe.

2. Berpetualang di Kampung Mangrove Pancer Cengkrong
Sumber: pribadi
Seperti hutan Mangrove lainnya, kita disuguhi berbagai jenis-jenis pohon Mangrove, bukit-bukit hijau, dan ada padepokan di sepanjang jalan jembatan kayu untuk beristirahat. Satu yang unik dari hutan Mangrove ini adalah kalian bisa berpetualang mengitari hutan Mangrove dengan perahu lokal. Kalian bisa menunggu di dekat aliran sungai untuk mendapatkan perahu lokal. Menyewa perahu lokal ini cukup murah kok, hanya 10.000 per orang. Kalian bisa melihat akar-akar hutan Mangrove dari bawah dan kerang-kerang yang menempel di akar ketika pantai tidak pasang. Air sungai yang berwarna hijau akan membawa kalian melewati jembatan Cengkrong dan bermuara ke laut. Sayangnya saat belum mencapai laut, perahu akan memutar balik menuju ke tempat kalian menyewa perahu. 

3. Berenang di Pantai Pasir Putih Trenggalek
Sumber: pribadi
Setelah panas-panasan di hutan Mangrove, saatnya berenang di Pantai Pasir Putih Trenggalek. Saat siang hari, ombak tidak begitu ganas sehingga cocok untuk berenang. Jangan lupa menyewa ban agar bisa lebih jauh dari bibir pantai. Kalian juga bisa memegang tali tambang yang telah disediakan di pantai. Tapi, kalian tetap harus berhati-hati ya, pastikan kalian bisa berenang terlebih dahulu untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Selain berenang, kalian juga bisa meyewa perahu mengelilingi teluk Trenggalek, mengunjungi berbagai pulau-pulau kecil-kecil untuk sekedar selfie, atau menguji adrenalin dengan menaiki banana boat. Oh ya satu lagi, biaya masuk pantai ini cukup 10.000 saja per orang. 

4. Wisata Kuliner di sekitar Pantai Pasir Putih Trenggalek.
Sumber: pribadi
Karena Pantai Pasir Putih ini terkenal dengan keindahan pantai birunya dan juga pasir putihnya, banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai makanan terutama Seafood. Untuk soal harga sekitar 35.000- 70.000, per porsi. Cukup mahal memang, tapi untuk ukuran Seafood-nya terbilang besar dan sebanding dengan harganya, seperti udang laut dan ikan tuna asap yang lumayan besar. Kemarin, karena saya pecinta udang, saya memesan udang asam manis. Awalnya saya mengira udang-udangnya sekecil udang di sungai dan hanya sedikit, ternyata malah sebaliknya. Ikan Tuna seharga 65000 per porsi juga membuat saya heran karena mahalnya, dan ternyata ikan Tuna yang diasapi itu lumayan besar dan butuh sekitar 5 orang untuk menghabiskannya. Apalagi jika ditemani dengan sambal dan kecap pedas khas Trenggalek yang SubhanAllah pedasnya. Rasa juga enggak kalah nendang, pengalaman saya yang sering makan makanan Seafood bisa dibilang makanan disinilah yang terbaik soal rasa. Rasa-rasanya ingin tambah lagi dan lagi namun apa daya perut sudah tak kuat menampungnya lagi hehe.

5. Belanja hasil tangkapan laut di sekitar Pasar Prigi
Sumber: Pribadi
 Sudah puas ke hutan, pantai dan makan, waktunya membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Kalau pantai-pantai lain menyediakan pernak-pernik untuk buah tangan, berbeda dengan pantai Trenggalek. Di sepanjang jalan, kalian akan melihat banyak penduduk lokal yang berjualan Seafood, baik yang masih fresh atau sudah diasapi. Berbagai macam Seafood yang mereka jual dari ikan Tuna, Sotong, dan masih banyak lagi. Untuk soal harga, cukup standar sekitar 25000-35000 tergantung seberapa besar ikan tersebut. Semakin besar ikannya maka semakin mahal harganya. Tapi jika kalian ingin lebih murah lagi, kalian bisa pergi ke Pasar Prigi dan lebih lengkap jenis-jenis Seafood-nya. Seperti pengalaman saya kemarin, yang mencari-cari udang mentah namun saya tak mendapatkannya dan waktu memaksa saya harus kembali pulang, akhirnya saya membeli Sotong (bentuknya saperti cumi-cumi namun lebih besar) dengan harga 25000 satuannya. Sampai dirumah, saya, kakak dan tante saya memasak Sotong bersama-sama yang kami berinama Sotong Asam Manis Pedas, dan benar saja rasa gurih Sotong yang diasapi dengan balutan asam manis pedas yang bikin nambah lagi dan lagi membuat hidangan ini langsung ludes saking lezatnya. (Untuk kalian penasaran dengan resepnya, tunggu di postingan selanjutnya yah).

Walaupun cuma seharian disana, cukuplah untuk refreshing. Bagi kalian yang ingin kesana, saya sarankan untuk menginap dan jangan lupa bagi-bagi informasi harga menginap ya hehe. Have a nice holiday!

By Miftahul HP
Share:

Followers

Search This Blog

Embun yang Dingin / Lautan Cinta

  Berikut ada 14 bagian masa-masa Lay Zhang bersama EXO: Panas yang Hebat / Pertama kalinya aku diatas panggung Akhir dari Panas / Api Embun...

Daily Blogger Pro Review Competition

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.